matahati katahati

  • Personal /
    23 Aug 2013

    'Ngintir', Kenangan Masa Kecil

    Bermain lumpur pekat bercampur pasir. Menabuhkan dua tapak tangan pada derasnya aliran air. Hingga timbulkan harmonisasi suara bak orkestra bertabuh. Jebar, jebur, brrr, brrr, burr… Demikian suara-suara yang ditingkah tawa lepas kami. Anak-anak desa yang bermain dengan mainan alam. Menanggalkan seluruh pakaian tanpa rasa sungkan. Berlarian kesana-kemari dengan riang gembira. Menimpuk kawan dengan segenggam lumpur pekat. Menaburkan pasir basah ke seluruh badan. Lalu menjatuhkan seluruh badan di atas atus yang deras. Sisa luapan air sore kemarin. Banjir, adalah peristiwa yang kami nantikan. Karena arus kuat dan air penuh adalah kondisi yang kami nantikan. Banjir membuat kami leluasa untuk melompat dari jembatan Kali Brangkal. Dengan tiga buah batang pisang yang kami ikat menjadi rakit
  • Personal /
    19 Aug 2013

    CALEG: CAlone ngeLEG

    Abi, caleg itu apa sih?, demikian pertanyaan Ana, anakku yang nomor tiga. Calone ngeleg (Jawa: bakalnya menelan makanan, pen.), tukasku sekenanya. Lha, kok calone ngeleg sih, Bi, matanya yang sipit dipaksa untuk terbelalak menatapku. Ya. Memang begitu kok, jawabku meyakinkan. Ngeleg itu kan makan. Masak calon mau makan?, mimik mukanya bertambah serius. Akhirnya mulailah aku bercerita panjang lebar tentang apa itu caleg. Aku yakin, sebagian besar pembaca juga banyak yang setuju dengan jawabanku tadi (meski dalam hati). Hal yang mungkin akhirnya juga menggelitik pikiran anakku terkecilku. Pertanyaan yang selama ini tidak bakal aku duga muncul dari benak puteri cerdasku ini. Maklumlah, pelajaran Pendidikan Kewarganegaraan (PKn) di mahad (sekolah pesantren) belum sampai pada bahasan trias po
  • Personal /
    18 Aug 2013

    Ngeblog Ramai-Ramai, Marah Ramai-Ramai

    #30HariNonstopNgeblog, hashtag yang keren dan wow. Lepas dari hadiah yang memang cukup menggiurkan, tema lombanya saja sudah cukup menantang. Setiap hari membuat satu postingan pada satu blog yang sama. Pekerjaan yang belum pernah penulis bayangkan sebelumnya. Sebab kalau toh sehari bisa buat dua atau lebih postingan, biasanya pada blog yang berbeda. Apalagi kesibukan penulis yang banyak direpotkan dengan urusan kebun dan pasar. Detik.com berhasil menggiring blogger pada aktivitas yang sesuatu banget. Seorang buruh tani dan kuli panggul pasar saja sudah demikian tertarik, apalagi bagi para blogger sejati. Konsistensi dan daya tahan tentu sangat dibutuhkan. Konsistensi untuk hadir setiap hari lewat tulisan. Sekaligus konsisten untuk selalu kreatif titip sana dan titip sini (mungkin), a
  • Personal /
    17 Aug 2013

    Apa Makna Hari Kemerdekaan Bagimu?

    Membaca sebuah status dan beberapa komentar di sebuah laman facebook tentang makna hari kemerdekaan membuat geleng-geleng kepala. Betapa tidak? Bagi penulis yang dilahirkan di awal tahun 70-an, 17 Agustus merupakan sesuatu hal yang sakral. 17 Agustus bukan hanya bermakna sebagai Hari Kemerdekaan Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI), namun lebih dari itu. Proses pembelajaran dan pendidikan yang diperoleh di sekolah maupun di rumah menciptakan mindset bahwa 17 Agustus 1945 adalah awal berjalannya suatu proses berbangsa dan bernegara. Upacara peringatan detik-detik proklamasi sebagai ‘ritual wajib’ hanyalah kosmetik. Tapi paling tidak, dapat menggugah efek kejiwaan yang lebih dalam. Bahwa jika tidak dengan perjuangan yang luarbiasa dari pendahulu kita, maka belum tentu ki

Author

Saya mengamati semua sahabat, dan tidak menemukan sahabat yang lebih baik daripada menjaga lidah. Saya memikirkan tentang semua pakaian, tetapi tidak menemukan pakaian yang lebih baik daripada takwa. Saya merenungkan tentang segala jenis amal baik, namun tidak mendapatkan yang lebih baik daripada memberi nasihat baik. Saya mencari segala bentuk rezeki, tapi tidak menemukan rezeki yang lebih baik daripada sabar. —Umar bin Khattab—

Recent Post

Komentar Terbaru