matahati katahati

  • Edukasi / Muhasabah /
    31 Aug 2013

    Antara Kebutuhan dan Keinginan

    Sekali lagi, saat tidak sengaja melihat tayangan televisi, ada sesuatu yang membuat saya ngeh pagi ini. Tentu para blogger sudah tidak asing lagi dengan acara Hati ke Hati Mamah Dedeh yang tayang setiap pagi di sebuah stasiun tv swasta nasional. Topik yang diangkat pagi ini adalah Antara Kebutuhan dan Keinginan. Sebuah ilustrasi menjadi pembuka acara. Seorang perempuan yang sedang hamil sedang merajuk kepada suaminya. Meminta segala pernak-pernik persiapan kelahiran bayi. Keinginan yang macam-macam ini sempat membat suami berpikir dalam. Tentu saja dengan kemampuan yang dimiliki untuk memenuhi kebutuhan sang istri dan calon bayi tentunya. Selanjutnya Mamah Dedeh memberikan pengantar kepada pemirsa tv. Beliau menekankan bagaimana keinginan sang istri tersebut dilihat secara proporsiona
  • Muhasabah /
    8 Aug 2013

    Idul Fitri yang Memenjarakan

    “Mohon maaf lahir dan batin,” demikian tagline yang tertulis pada Hari Raya Idul Fitri. Sebuah kalimat sederhana yang penuh makna. Atau tanpa makna sama sekali. Menjadi sebuah makna jika kita memaafkan orang lain bukan berarti mereka patut mendapatkan pemaafan, tetapi memang selayaknya kita untuk memperoleh dan memberi kedamaian hati. Demikian ungkapan seorang sahabat lama penulis. Permaafan bagi diri kita yang memang penuh dengan kesalahan dan dosa masa lalu. Kemudian berkomitmen untuk membuat perbaikan diri di hari-hari yang akan datang. Sedangkan bisa tanpa makna sama sekali, jika kita membuat permaafan itu hanyalah retorika sesaat. Mengucap dengan senyum berseri-seri. Sementara hati kita masih menebarkan keburukan. Menyusun siasat serta rencana buruk untuk menyelematkan mu
  • Muhasabah /
    7 Aug 2013

    Idul Fitri yang Sendiri

    Saudaraku, ini Idul Fitri pertamaku tanpa ibu. Tapi entah sudah ke berapa puluh kali tanpa kalian. Aku paham jika kalian tinggal di benua lain. Atau di negara lain. Dimana tiket untuk mengunjungi ibu memanglah mahal. Tapi… kalian tinggal hanya beberapa puluh kilometer dari rumah ibu. Saat semua orang bingung dengan agenda mudik. Demikian juga aku yang repot mengatur jadual mudik ke mertuaku, aku tidak tahu, apa yang ada di benak kalian dengan istilah mudik itu. Sudahlah, itu masa lalu. Itu karena aku iri mungkin. Melihat kawan-kawanku yang begitu antusias saat menyebut kata ‘mudik’. Bersemangat menuju haribaan bunda atau bapaknya yang masih ada. Atau menengok rumah masa kecilnya. Ah… sekarang ibu sudah tiada. Membawa mimpi-mimpi dan keinginan agar paling tidak set

Author

Saya mengamati semua sahabat, dan tidak menemukan sahabat yang lebih baik daripada menjaga lidah. Saya memikirkan tentang semua pakaian, tetapi tidak menemukan pakaian yang lebih baik daripada takwa. Saya merenungkan tentang segala jenis amal baik, namun tidak mendapatkan yang lebih baik daripada memberi nasihat baik. Saya mencari segala bentuk rezeki, tapi tidak menemukan rezeki yang lebih baik daripada sabar. —Umar bin Khattab—

Recent Post

Komentar Terbaru