matahati katahati

  • Fiksi /
    11 Feb 2014

    Akankah Cinta Tanpa Hiatus?

    Ilustrasi hiatus. (Foto koleksi pribadi) Wajah tampan, kulit putih, hidung macung, tubuh atletis dan senyum penuh kelembutan. Gadis normal manakah yang tak tergerak untuk dipinang olehnya. Apalagi kecerdasannya sebagai salah satu alumni terbaik sebuah pondok pesantren. Pasti makin sukalah sang gadis yang mengidamkannya. Demikian juga dengan Savitri. Sebut saja namanya demikian. Anak seorang ‘raja tanah’ di desa kami. Saat Firman, sang perjaka tampan itu dikenalkan kepadanya. Sebuah perkenalan/ta’aruf yang cukup singkat oleh ayah Savitri kepada anaknya. Justeru perkenalan yang singkat itu membuat hati Savitri berbunga-bunga. Hal ini nampak terbaca oleh ibu serta ayahnya. Hingga seminggu kemudian sang ayah pun meminta tanggapan terakhir atas niatnya. Ya, niatan sang
  • Fiksi /
    10 Nov 2013

    10 Nopember Ini Masih Milik Kita Abah

    Para pejuangku. (Foto koleksi R. Yuliantono) Dan kita yakin saudara-saudara, pada akhirnya pastilah kemenangan akan jatuh ke tangan kita. Sebab, Allah selalu berada di pihak yang benar. Percayalah saudara-saudara, Tuhan akan melindungi kita sekalian. Allahu Akbar..! Allahu Akbar..! Allahu Akbar! Merdeka ! Berulang kali lelaki tua itu memutar rekaman pidato Bung Tomo. Pidato saat mengobarkan semangat arek-arek Suroboyo untuk membuka pertempuran mempertahankan kemerdekaan melawan tentara sekutu yang diusung oleh Belanda. Sambil sesekali menyeka air mata yang bertambah deras berderai. Lalu punggungnya pun terlihat kuat berguncang. Dengan tangan erat mencengkeram lengan kursi goyangnya. Akupun biasanya ikut terbawa suasana. Seolah ikut merasakan nuansa heroik yang dia pernah rasakan. Ya,
  • Fiksi / Personal /
    20 Oct 2013

    Ibu

    kau tak mampu baca gerak tubuhku. Namun kau mampu baca gerak hatiku. Meski kau tak mampu tuliskan pesan-pesan indah. Namun kau mampu penuhi dinding hatiku dengan senyummu. Meski kau tak mampu berjalan cepat. Namun kau mampu berlari cepat hampiri damaiku. Biarlah cinta ini berjalan apa adanya. Tuliskan sgala dengan pena rindu. Serta tinta biru bak lazuardi. Karena dengan biru tak kan ada layu. Atau kisah usang kehidupan, Yang kita sendiri tak lagi memerlukan. Sebab yang kita perlukan hanyalah sejengkal jarak. Agar kita tetap saling bisa memandang jika dalam kerinduan. Atau meraih dan saling merengkuh saat membutuhkan. Lain daripada itu adalah segenggam benih cinta dan rasa percaya. Meski kini kau tak lagi dapat ku rengkuh. Tapi hati dan senyummu tetap abadi. Menyanding segala keresahan
  • Fiksi /
    10 Oct 2013

    Pocong...Oh...Pocong...

    Foto koleksi You Tube. Pertengahan 1995 kampusku, sebuah PTN ternama di Yogyakarta mengadakan KKN di daerah Patuk, Gunung Kidul. Kebetulan aku dan kelompokku mendapatkan sebuah dusun yang berada 1 kilometer dari jalan besar antara Patuk dan Desa Nglanggeran. Berduabelas kami tinggal di Kampung Jomblang, Dusun Gunungasem, Desa Ngoro-Oro, Kecamatan Patuk, Gunungkidul. Sebagaimana suasana dusun kala itu, meskipun listrik sudah masuk, namun masih sebatas pada rumah tertentu. Kebetulan posko tempat kami, listrik diperoleh dari rumah di atas kami. Sehingga jalanan masuk menuju posko dan jalan-jalan utama dusun penerangan masih sangat terbatas. Temaram dan cenderung gelap di sebagian besar jalan dan pekarangan rumah. Pepohonan besar masih tumbuh dimana-mana. Rumpun bambu berderet rimbun dan

Author

Saya mengamati semua sahabat, dan tidak menemukan sahabat yang lebih baik daripada menjaga lidah. Saya memikirkan tentang semua pakaian, tetapi tidak menemukan pakaian yang lebih baik daripada takwa. Saya merenungkan tentang segala jenis amal baik, namun tidak mendapatkan yang lebih baik daripada memberi nasihat baik. Saya mencari segala bentuk rezeki, tapi tidak menemukan rezeki yang lebih baik daripada sabar. —Umar bin Khattab—

Recent Post

Komentar Terbaru