matahati katahati

  • Fiksi /
    18 Nov 2014

    Cerita Tentang Cak Glewo

    Naik cuma dua ribu saja. Mohon maaf sebelumnya. Postingan ini tak bermaksud menyindir atau mengkritik siapapun. Cuma sekedar ungkapan hati melihat kondisi di luaran. Maklum, saya sendiri sudah sudah 5 hari ini tak bisa ke mana-mana. Sakit pasca kecelakaan kemarin yang membuat saya harus tetap duduk atau bobo manis. Begitu sih saran pak dokter dan mbak fisioterapis dan mas akupunturis. Jika Anda merasa tersinggung, sekali lagi mohon dimaafkan ya. Apalagi bahasa dialog di bawah ini menggunakan Bahasa Jawa dialek khas Suroboyoan. Jadi yang masih gagal paham, boleh lihat padanannya di Google Translate. Itu pun kalau ada terjemahannya lho. He….7x. Berikut adalah dialog antara Cak Glewo dan Mas Nuz (saya) menyikapi harga kenaikan BBM hari ini. Cak Glewo ini adalah seorang mantan pe
  • Fiksi /
    18 Aug 2014

    Negeri Para Jomblo

    Tak mau istikomah di dalam, lebih suka menunggu di luar dlm kegelapan. (Foto kolpri) Sebuah kisah di negeri para jomblo. Para pemuda dan pemudinya serba galau. Tiap hari nulis status di media sosial. Bisa 10 kali bahkan 100 kali status. Seolah dunia sudah tak peduli lagi padanya. Sehingga banyak buat status, seolah-olah dirinya selalu eksis. Negeri para jomblo, langitnya dipenuhi milyaran angan dan mimpi-mimpi. Tak ada lagi sudut kosong untuk menyembunyikan keresahan hatinya. Meski negerinya sudah merdeka, namun tidak dengan hati mereka. Dirinya seolah masih dibelenggu dengan ketakberdayaan. Langkahnya pun seolah melayang, sering tanpa arah. Negeri para jomblo, banyak tempat ibadah yang berdiri. Namun tak lebih sebaris tempat yang dipenuhi saat peribadatan dimulai. Mereka lebih asyik
  • Fiksi /
    4 May 2014

    My First Journey: Minggat

    Sebagai ungkapan rasa persahabatan saya kepada Mas Firdaus (Eruvierda), perkenankan saya menuliskan sebuah pengalaman perjalanan pertama yang tak terlupakan. Bukan sebuah cerita yang menarik mungkin. Tapi kesan perjalanan itu begitu membekas bagi saya. Kisah perjalanan seorang anak 6 tahun yang belum begitu banyak tahu dunia luar. Ini adalah sepenggal kisah masa silam. Malu juga sebenarnya saat akan menceritakan. But, life must go on. Anak-anak saya pun mungkin harus tahu kisah masa kecil saya. Pendidikan karakter yang penuh disiplin dari kakek mereka, abah saya. Menempa kami menjadi 5 orang anak yang tangguh, mandiri dan selalu berpegang teguh pada tali agama. Sebagaimana layaknya anak kecil, bermain adalah dunianya. Demikian juga dengan saya. Tapi mungkin ada yang membedakan dengan te
  • Fiksi /
    26 Feb 2014

    Di Siang yang Terik

    Courtesy of Kaskus dot co dot id. Alkisah di satu siang yang terik. Si Zoe yang lagi galau datang ke sebuah gerai. Keringat deras mengalir deras membasahi wajahnya. Sehingga perlu usapan kaneb* untuk membersihkannya. Uiiihh…lega rasanya. Freshh… Maka dengan perasaan yang gegap gempita, bersegera memarkir motor pinjamannya. “Mas…mas…tolong jangan kunci stang ya,” tiba-tiba seseorang menepuk bahunya. “Siap boss. Lagian siapa yang mau ngembat motor butut gini,” serunya agak terkejut. Maklum, biasanya sih tinggal parkir, beres. Tumben kali ini ada yang markirin. Bergegas masuk ke gerai sebuah operator telepon. Itu tuh yang punya semboyan ‘Anti Ngepet’. Hwaduh… tengok kiri, tengok kanan, jebule sudah puluhan orang yang

Author

Saya mengamati semua sahabat, dan tidak menemukan sahabat yang lebih baik daripada menjaga lidah. Saya memikirkan tentang semua pakaian, tetapi tidak menemukan pakaian yang lebih baik daripada takwa. Saya merenungkan tentang segala jenis amal baik, namun tidak mendapatkan yang lebih baik daripada memberi nasihat baik. Saya mencari segala bentuk rezeki, tapi tidak menemukan rezeki yang lebih baik daripada sabar. —Umar bin Khattab—

Recent Post

Komentar Terbaru