matahati katahati

Zoyaku Sayang Zoyaku Malang

12 Feb 2016 - 23:59 WIB

 

Bukan jilbab Zoya pun tak apa.

 

Setelah memicu polemik yang cukup panas, ngeper juga akhirnya. Demikian sepenggal kisah iklan produk jilbab ‘halal’ Zoya. Entahlah, apa yang ada di benak sang kreator iklan jilbab tersebut. Hingga dengan teganya bertanya tentang ke’halal’an produk jilbab lain selain merek Zoya.

Sengaja atau tak sengaja, saat membaca reaksi masyarakat (muslim khususnya) seharusnya bisa lebih responsif. Sebab hiruk pikuk di media sosial tentu tak bisa membutakan mata markom Zoya maupun biro iklan itu sendiri. Kecaman keras dari masyarakat tentu menjadi presden buruk tayangan iklan jilbab ‘halal’ tersebut.

Inti permasalan sebenarnya bukan pada sertifikasi halal dari MUI terhadap produk jilbab tersebut. Justru iklan provokatif itulah yang menjadikan hiruk-pikuk di media sosial dan situs berita onlen. Sebenarnya banyak cara yang lebih elegan untuk mempromosikan produknya. Semisal dengan produk kosmetik Zahra yang akhirnya entah menghilang ke mana. Kemudian Wardah akhirnya ‘mengambil alih’ sebagian besar konsumen produk kosmetik halal yang pertama tadi.

Berapa puluh tahun Wardah mengenalkan produk kosmetik halalnya? Ternyata baik-baik saja bukan? Konsumen dengan cerdas akan memilih produk kosmetik mana yang cocok untuk dirinya. Bila perlu, yang tanpa label halal pun akan tetap dibeli, sebab menyesuaikan dengan lembaran uang yang ada di dompetnya.

Pernyataan Sigit Endroyono dalam konfrensi pers (9/2) kemarin di Bandung juga sebenarnya juga masih bias. Masyarakat saya yakin tak akan mempermasalahkan jilbab tersebut ‘halal’ atau tidak. Toh, keluarga saya dan sebagian keluarga para asatiz serta santri puri di pesantren tak menggunakan jilbab dengan label halal dari MUI. Justru yang dipermasalahkan adalah cara beriklannya yang seolah ‘mengolok’ produk jilbab lain selain punya Zoya.

Lambatnya pernyataan penyesalan dan permintaan maaf tersebut juga penulis yakini sebagai dampak buruk iklan yang dibuatnya. Naif sekali penulis pikir. Menunggu reaksi pasar, bila negatif baru bergerak meminta maaf. Di sini semakin menampakkan keabsurdan dari komunikasi marketing produk jilbab ‘halal’ tersebut.

Iklan yang diharapkan bisa mendongkrak pasar, malah menjadi senjata makan tuan. Produk yang katanya halal itu malah jadi jeblok di pasaran. Ibarat susu sebelanga, rusak karena setitik nila. Perjalanan panjang Zoya sebagai salah satu merek ‘elit’ bagi muslimah, seolah runtuh hanya dalam hitungan hari saja.

Ini menjadi pelajaran sangat penting bagi siapa saja yang mencoba untuk bermain dengan ranah sensifitas agama dalam menjual produknya. Teledor sedikit, citra produk dan perusahaannya akan menjadi pertaruhannya. Penulis yakin, pelanggan yang dulunya sangat fanatik pun kini menjadi akan berubah pendapat. Mereka akan berpikir lebih banyak untuk membeli jilbab dengan merek tersebut. Apalagi seperti keluarga kami. Dengan uang puluhan ribu saja sudah bisa membuat jilbab syar’i yang tak kalah kualitasnya dengan produk jilbab ‘halal’ tersebut.

Jikapun ada pertanyaan, “Apakah jilbab isteri atau anak Anda halal?”

Maka akan penulis jawab dengan mantap, “InsyaAllah jilbab isteri dan anak-anak saya halal. Sebab saya peroleh dengan uang yang saya cari dengan cara yang halal.”

Penulis malah sekarang ragu dengan label ‘halal’ produk jilbab tersebut. Sebab jelas-jelas dia mempromosikan dengan cara-cara yang ‘tidak halal’. Dengan cara menyakiti perasaan masyarakat (muslim) yang tidak menggunakan produk jilbab merek tersebut. Tapi kembali lagi, semua menjadi pilihan dari masyarakat untuk cerdas menyikapi setiap perilaku produsen yang ingin dagangannya laku.

——————————-

[Artikel ini 98% orisinal menggunakan cek plagiat.]


TAGS   jilbab Zoya /


Author

Saya mengamati semua sahabat, dan tidak menemukan sahabat yang lebih baik daripada menjaga lidah. Saya memikirkan tentang semua pakaian, tetapi tidak menemukan pakaian yang lebih baik daripada takwa. Saya merenungkan tentang segala jenis amal baik, namun tidak mendapatkan yang lebih baik daripada memberi nasihat baik. Saya mencari segala bentuk rezeki, tapi tidak menemukan rezeki yang lebih baik daripada sabar. —Umar bin Khattab—

Recent Post

Komentar Terbaru

Arsip Tulisan