matahati katahati

Kitalah Generasi Penuh Syukur Itu

11 Feb 2016 - 09:30 WIB

 

Menyadur dari sebuah catatan sahaba FB Musawir GapakekBoxer, sungguh ada rasa haru biru. Ada rasa bangga, bahagia, sedih, dan suka tentu saja. Utamanya bagi mereka yang dilahirkan pada dekade 50-an, 60-an, serta 70-an. Tak luput juga yang berusia jelang 50-an tahun. Catatan yang perlu tahu juga untuk generasi berikutnya.

Saya, kita yang lahir di tahun tersebut adalah generasi yang layak disebut generasi paling beruntuntung. Karena kitalah generasi yang mengalami loncatan teknologi yang begitu luar biasa dan mengejutkan. Bersyukurlah karena kita masih diberi kondisi yang prima.

Kitalah generasi terakhir yang pernah menikmati riuhnya suara mesin ketik. Sekaligus saat ini kita menjadi generasi yang masih bisa memainkan jari jemari kita di atas keyboard laptop.

Kitalah generasi terakhir yang merekam lagu dari radio dengan tape recorder. Sekaligus kita dapat dengan mudahnya mengunduh lagu dari gadget.

Kitalah generasi dengan masa kecil yang tumbuh lebih sehat dari anak masa kini. Karena kita masih merasakan permainan petak umpet, lompat tali, sondah, loncat tinggi, egrang, gasing/galasing. Kitalah yang masih merasakan mandi hujan sebagai keasyikan tersendiri, apalagi ditamabah dengan mandi di kali yang sedang meluap meninggi. Sekaligus saat ini mata dan jari jemari kita masih bisa lincah memainkan berbagai game di laptop dan gadget.

 

Masa Remaja

Kitalah generasi terakhir yang pernah mempunyai kelompok/geng yang tanpa janji, tanpa telepon apalagi sms, tapi selalu bisa kumpul bersama menikmati malam minggu sampai pagi. Sebab kita adalah generasi yang berjanji cukup dengan hati. Kalau dulu kita harus bertemu untuk terbahak bersama, kini kita pun tetap bisa terbahak bersama. Meski hanya di grup media sosial FB, WA, BB, Line, dan lainnya.

Kitalah generasi terakhir yang pernah menikmati lancarnya jalan raya tanpa macet di mana-mana. Juga bersepeda motor menikmati segarnya angin jalan raya tanpa helem di kepala. Kitalah generasi terakhir yang bisa bersepeda berjejer tiga tanpa ada yang meruibutkannya di jalan raya. Hahahaha….

Kitalah generasi terakhir yang pernah merasakan jalan kaki berkilo meter tanpa perlu berpikir ada penculik yang membayangi kita. Huhahuhahuha….

Kitalah generasi terakhir yang pernah merasakan menonton tv bersama-sama di kantor kecamatan atau rumah juru penerangan (jupen). Kitalah generasi terakhir yang menikmati tv dengan istikomah. Tanpa perlu direpotkan untuk memindah channel ke sana ke mari.

Kitalah generasi terakhir yang merasakan menyetrika baju harus menyiapkan arang terlebih dahulu. Ditambah dengan menguatkan lengan tanpa perlu pitnes.

Kitalah generasi terakhir yang pernah begitu mengharapkan pak pos datang ke rumah atau sekolah. Menyampaikan surat dari sahabat atau kekasih hati kita, yang surat tersebut di tempel di kotak pengumuman sekolah. Belum lagi anak kos yang begitu berharap menerima selembar pemberitahuan wesel pos. Tanda bahwa sudah bisa mengembalikan hutang di warung burjo. Huahahaha….

Itulah kita.

Anda generasi itu? Bagikan kebahagiaan ini. Biar mereka yang belum tahu menjadi tahu. Biar yang pernah tahu tetap ingat kalau mereka tahu. Serta menikmati lagi indahnya masa lalu yang tidak semua generasi tahu.

————————-

 

[Pos ini 98% orisinil menggunakan cek plagiat.]


TAGS   generasi 70-an / iptek /


Author

Saya mengamati semua sahabat, dan tidak menemukan sahabat yang lebih baik daripada menjaga lidah. Saya memikirkan tentang semua pakaian, tetapi tidak menemukan pakaian yang lebih baik daripada takwa. Saya merenungkan tentang segala jenis amal baik, namun tidak mendapatkan yang lebih baik daripada memberi nasihat baik. Saya mencari segala bentuk rezeki, tapi tidak menemukan rezeki yang lebih baik daripada sabar. —Umar bin Khattab—

Recent Post

Komentar Terbaru

Arsip Tulisan