matahati katahati

Puasa Ramadan Dan Sedekah

22 Jun 2016 - 23:29 WIB

 

Telah kita ketahui bersama. Puasa Ramadhan adalah puasa wajib yang ditujukan untuk orang-orang yang beriman. Yaitu yang meyakini bahwa dengan berpuasa sebulan penuh di bulan Ramadhan, kaum muslimin ditempa jiwa dan raganya untuk menjadi insan yang bertakwa. Menjadi manusia yang taat terhadap segala perintah Allah Ta’ala dan mencontoh sikap hidup Rasulullah Muhammad shallAllahu ‘alaihi wassalam.

Ada banyak hikmah yang dapat kita ambil dari proses puasa Ramadan itu sendiri. Selain secara harfiah adalah menahan nafsu makan dan minum, serta nafsu yang lain, namun ada yang lebih penting dari hal tersebut. Shodaqah jariyyah atau yang biasa kita sebut dengan sedekah. Oleh karena itu, puasa Ramadan ini juga sebagian ulama ada yang menyebutnya sebagai ‘bulan sedekah’.

Tidak berlebihan memang. Sebab Allah Ta’ala menjanjikan pahala yang berlipat dibandingkan 11 bulan yang lain untuk ibadah-badah yang kita kerjakan di bulan ini. Demikian juga dengan sedekah. Oleh karena itu, kesempatan besar bagi mereka yang beriman untuk berlomba-lomba mengisi lubang-lubang kesempatan menyisihkan sebagian rezekinya.

Bukankah Allah Ta’ala telah berfirman dalam TQS Ali Imran:92:

“Kamu sekali-kali tidak sampai kepada kebajikan (yang sempurna), sebelum kamu menafkahkan sebagian harta yang kamu cintai. Dan apa saja yang kamu nafkahkan maka sesungguhnya Allah mengetahuinya.”

 

Itu adalah dorongan dari Allah Ta’ala untuk para hambaNya agar berinfak dan bersedekah di jalan-jalan kebaikan. Orang yang bertakwa tentu akan berusaha berjalan di jalan kebaikan tersebut. Utamanya di bulan yang penuh kemuliaan ini. Sebab di bulan ini jalan-jalan kebaikan begitu besar dan amat lengang untuk kita lewati. Kok bisa?

Bagi kita yang biasa hidup normal, makan tiga kali sehari adalah suatu hal yang jamak. Saat puasa, maka ritme makan dan kwantitas makan pun berubah. Kita cukup makan dua kali saja, yaitu pada saat sahur dan berbuka. Lalu ke mana ‘jatah’ makan siangnya? Inilah sebenarnya jalan lebar kesempatan untuk bersedekah yang dilapangkan Allah Ta’ala untuk kita.

Kesempatan 29 atau 30 kali makan siang inilah yang bisa menjadi ‘wild card‘ untuk menambah sedekah kita. Menyediakan iftar (pembatal puasa) dengan makanan kecil atau makanan besar akan memberikan keasyikan tersendiri. Belum lagi jika kita mampu menambah dengan menyediakan menu untuk sahur. Tentu ini akan memperkaya hati kita. Sebab Allah berjanji bahwa banyak atau sedikit harta yang kita nafkahkan di jalanNya, pasti akan dibalas dengan berlaksa kebaikan.

Pun dalam sebuah hadis yang diriwayatkan oleh Muslim, Rasulullah telah bersabda, “Dan sedekah adalah bukti”. Bukti bahwa kita adalah hamba yang beriman sebagaimana panggilan Allah Ta’ala untuk menjalankan kewajiban puasa Ramadan. Oleh karena itu, tak dapat disangkal bahwa antara bulan Ramadan dan sedekah terdapat hubungan yang erat dan tak dapat dipisahkan.

Maka sangat merugilah kita jika melewatkan bulan yang mulia ini tanpa bersedekah. Untuk bersedekah, seseorang tak harus menunggu dirinya dalam keadaan lapang atau serba berkecukupan. Justru di saat sempit, sedekah yang kita keluarkan akan dijadikan Allah Ta’ala akan menjadikan kita lapang. Sebagaimana ketika Rasulullah ditanya tentang sedekah apa yang paling utama? Beliau Rasulullah bersabda, “Usaha (sedekah) oleh seorang yang fakir.” (HR. Abu Daud dan Nasa’i dlm Shahihul Jami’ no. 1112)

Jadi, masih takut bersedekah?


TAGS   sedekah / bulan Ramadan /


Author

Saya mengamati semua sahabat, dan tidak menemukan sahabat yang lebih baik daripada menjaga lidah. Saya memikirkan tentang semua pakaian, tetapi tidak menemukan pakaian yang lebih baik daripada takwa. Saya merenungkan tentang segala jenis amal baik, namun tidak mendapatkan yang lebih baik daripada memberi nasihat baik. Saya mencari segala bentuk rezeki, tapi tidak menemukan rezeki yang lebih baik daripada sabar. —Umar bin Khattab—

Recent Post

Komentar Terbaru

Archive