matahati katahati

HPku Sayang, Anakku Melayang

14 Apr 2016 - 09:31 WIB

 

Sebuah kejadian miris sudah lewat 6 hari yang lalu (9/4). Namun pelajaran penting dari peristiwa tersebut tak akan berbatas waktu. Bagaimana 2 orang balita meninggal sia-sia akibat keteledoran orang tuanya. Sampai hari ini pun masih menyelidiki sebab musabab kematian mereka. Meski pihak orang tua bersikukuh bahwa kejadian tersebut murni karena keteledorannya.

Wid (7 tahun) dan Amb (8 tahun) dikabarkan meninggal dunia akibat tenggelam. Kolam renang di sebuah hotel terkenal di kawasan Wonokromu ini pun kini masih diberi police line. Meski kejadian yang merenggut 2 nyawa tersebut tak dilaporkan oleh orang tua korban, namun Polsek Wonokromo tetap mengusutnya. Orang tua kedua anak tersebut tak menghendaki otopsi, oleh karena itu mereka menganggap tak penting untuk melaporkan kepada pihak kepolisian.

Sebagaimana pengakuan SW, ibu Amb dan bibi Wid, bahwa dia tak mengetahui kronologi pastinya sampai kedua anak tersebut tenggelam. Sebab saat itu dia sedang sibuk dengan aktivitas ‘bermain’ handphone. Saking asyiknya, teriakan sang anak pun sampai tidak terdengar. Hal ini mengundang kecurigaan salah seorang karyawan hotel tersebut. Hingga dia meneriaki SW. Namun sayang, saat dilakukan pertolongan kedua nyawa anak tersebut sudah tak bisa diselamatkan.

Sekali lagi, peristiwa di atas menjadi peringatan yang sangat berharga bagi kita semua. Bahwa menggunakan gawai sudah seharusnya memperhatikan tempat dan kepentingannya. Berapa banyak kecelakaan lalu lintas yang diakibatkan pengemudi motor atau mobil berkendara sambil menggunakan gawai. Termasuk keasyikan orang tua dalam memainkan gawainya hingga sang anak ‘terseret’ elevator. Lebih parah lagi, sang anak terpelanting dari ketinggian mall karena sang ibu sedang menerima telepon.

Gawai menjadi alat komunikasi yang utama. Bahkan, saat ini banyak orang yang sebagian besar waktunya ‘tersandera’ oleh gawainya. Hingga aktivitas sosial dalam berhubungan sosial langsung dengan orang lain pun menjadi terganggu. Betapa banyak kita lihat suatu pertemuan menjadi ‘tidak penting’. Sebab sang pembicara kurang menarik dibandingkan dengan gawainya.

Begitu juga saat kita bersua dengan teman. Diri kita seolah menjadi tidak penting, sebab sang lawan bicara kita lebih banyak berinteraksi dengan gawainya. Sementara pembicaraan dengan kita dijadikan hanya sebagai sambilan. Parah bukan? Harusnya silaturrahim yang bisa mengakrabkan satu sama lain, bisa menjadi silaturrahim yang ‘menyebalkan’. Anda pernah mengalami hal yang demikian?

Maka pepatah Jawa “empan papan” kiranya kita coba untuk kembali kita gaungkan. Tahu diri dan tahu tempat kita jadikan kembali sebagai etiket pergaulan kita. Termasuk menempatkan gawai pada waktu dan tempatnya. Ada kalanya kita bisa bermain seheboh mungkin dengannya. Ada tempatnya saat kita letakkan gawai tersebut pada tempat yang tersembunyi sehingga tak sampai mengganggu aktivitas sosial kita.

Jika merasa sulit, mari kita kembali belajar.

 


TAGS   gawai /


Author

Saya mengamati semua sahabat, dan tidak menemukan sahabat yang lebih baik daripada menjaga lidah. Saya memikirkan tentang semua pakaian, tetapi tidak menemukan pakaian yang lebih baik daripada takwa. Saya merenungkan tentang segala jenis amal baik, namun tidak mendapatkan yang lebih baik daripada memberi nasihat baik. Saya mencari segala bentuk rezeki, tapi tidak menemukan rezeki yang lebih baik daripada sabar. —Umar bin Khattab—

Recent Post

Komentar Terbaru

Archive