matahati katahati

Bersua ‘Sosok Sang Sunan’ Di Benteng Sao Paulo

17 Mar 2016 - 18:21 WIB

Sisa reruntuhan Benteng Kastela yg telah direstorasi.

Cuaca cukup terik siang itu. Tapi #LaskarGerhanaDetikcom sangat antusias dengan rute yang disiapkan Tim Detik Travel. Apalagi bagi sebagian besar laskar yang baru pertama kali menginjakkan kaki di Ternate. Panasnya cuaca tak menghalangi semangat untuk jalan-jalan.

Setelah rehat sebentar di Hotel Vellya, destinasi pertama adalah Benteng Kastela. Benteng yang terletak di Desa Kastela, Kecamatan Pulau Ternate ini memiliki sejarah yang cukup panjang. Berdiri di atas tanah seluas 2.000-an meter persegi, benteng ini dibangun oleh Portugis secara bertahap selama 20 tahun. Dimulai di tahun 1522 oleh Antonio de Brito, hingga dituntaskan oleh Jorge de Castro (1540). Sebuah peristiwa besar pada 27 Februari 1570 yaitu dibunuhnya Sultan Khairun di Benteng ini.

Peristiwa tersebut memicu kemarahan rakyat Ternate. Sultan Babullah (1528-1583) sebagai pengganti Sultan Khairun pun mengangkat senjata. 4 tahun menjadi perjalanan panjang perang Ternate yang berujung takluknya Portugis. Peperangan yang dikenal dengan Soya-Soya (pembebasan negeri). Benteng Kastela pun akhirnya dapat direbut. Di tangan beliau pulalah Kesultanan Ternate menjadi berjaya. 

Nah, itu sedikit flashback sejarah Benteng Kastela. Benteng yang oleh masyarakat sekitar lebih dikenal dengan Benteng Sao Paulo (ada yang menyebut dengan Santo Paulo). Benteng yang saat pertama kali saya datang sudah begitu kuat ‘tercium aroma’ mistisnya. Entahlah, antara sadar atau tidak, saat melangkahkan kaki melintasi gerbang, tampak sesosok perempuan berkebaya khas perempuan Jawa. Berkebaya putih dan dengan jarit bermotif gelap (antara coklat atau kebau-abuan). Sementara penutup kepala berupa kudung/kerudung berwarna putih. Dia berdiri di sisi kanan saya.

Beberapa saat saya perhatikan, namun dia seperti cuek saja. Sementara langkah saya pun seolah ‘ada yang menuntun’ untuk berjalan ke arah yang lebih rindang di sisi kiri benteng. Wouw…disela berlalu-lalangnya teman-teman laskar. Tampak sesosok pria tua tinggi kurus berjubah putih. Duduk dengan tenang dintara puing-puing (rerntuhan) batu benteng. Dengan memegang tongkat akar panjang. Wajahnya tidak begitu jelas, namun dari sikap duduknya seolah cukup serius menatap kehadiran rombongan kami.

Hal itu berlangsung beberapa saat. Sampai kaki saya kembali ‘dituntun’ menuju sebuah sudut dimana sebuah sumur tua berada. Nampak beberapa orang anak dengan pakaian kuno (bercawat dan menggunakan ikat kepala) sedang bermain. Sampai ‘ngeh’ saat papasan dengan Melanie Subono yang lagi sibuk berfoto ria dengan fansnya.

Kemudian terlontar celetukan saya, “Mel, coba lo tanya anak-anak ini. Seneng kagak maen di dekat sumur tua itu.”

“Emangnya ngapain?” Tanya Melanie.

“Lo, tanya saja. Jawabnya pasti suka. Gue liat barusan banyak anak-anak maen di situ,” jawab saya.

Kemudian secara spontan, Melanie bertanya kepada anak-anak yang mengelilinginya. Maklumlah, penyanyi berwajah bule ini kerap manggung di Ternate. Jadi masyarakat sudah cukup familiar rupanya.

“Suka…,” demikian jawaban malu-malu yang terlontar dari anak-anak tersebut. Lalu saya sedikit berargumen, mengapa mereka suka bermain di sisi sumur tua yang kini digunakan untuk masjid yang berada di atasnya.

__________________________

Karena tensi penasaran saya yang tinggi, maka saya pun berusaha mencari tahu. Kebetulan di tempat mobil rombongan kami parkir, tampak sebuah rumah yang lagi banyak orang. Sepertinya mereka lagi menyapkan sebuah acara hajatan. Berhubung saya pun ada rasa ingin BAK, saya putuskan untuk ‘bertamu’ ke rumah tersebut.

Sambil bercengkerama dengan tuan rumah yang lagi menyiapkan hajatan peringatan Hari Ke-9, saya pun bertanya seputar fenomena yang saya rasakan. Pertama kali ditemui oleh Bang Husni, tapi yang saya tanyakan sepertinya ‘bagaimana begitu’, akhirnya dia panggil Pak Komeng. Setalah sedikit basa-basi, saya pun bercerita seperti apa yang saya alami.

Pucuk dicita ulam tiba. Pak Komeng ini ternyata yang biasa membersihkan komplek benteng tersebut. Beliau pun tanpa banyak kata menjawab, “Memang yang demikian banyak ada. Torang tara (tidak) percaya, tapi memang itu ada.”

Beliau menyebut sosok jubah putih tersebut dengan ‘Sunan’ dan sosok perempuan tersebut sebagai ‘Putri’. Tak dapat dipungkiri bahwa pada zaman penyebaran Islam Nusantara hubungan antara satu kerajaan Islam satu dengan yang lain cukup erat. Termasuk hubungan antara Kesultanan Ternate dan para wali yang saat itu memiliki pengaruh cukup besar di Jawa. Sehingga kisah seorang salah satu putri Kesultanan Ternate yang diperistri oleh Sunan Ampel atau Sunan Kalijaga pun sudah cukup masyhur di masyarakat Ternate.

Sementara anak-anak yang berlarian di sudut sumur tersebut cukup beralasan. Sebab di situ terdapat sumber air berupa kolam yang terdapat pohon besar dan rindang di pinggirnya. Menjadi salah satu tempat favorit untuk berkumpul atau bermain. Ini juga yang menjadi alasan mengapa sekarang sumur tersebut ditutup beberapa lembar seng. Sebab sering kejadian beberapa anak yang masuk sumur. Bahkan ada yang sampai meninggal dunia. 

Namun meski sudah ditutup seng serta diberi penghalang pilar-pilar semen tak terpakai, masih saja anak-anak suka main di daerah situ. Menurut Pak Komeng pula, beberapa orang bule rutin datang ke benteng tersebut. Sebagaimana yang saya lihat, para bule tersebut rupanya masih terpesona dengan ’sosok’ tersebut. Sehingga tiap liburan musim semi, selalu sempatkan untuk kembali berkunjung ke Ternate.

Ah…Ternate. Daya magismu telah membuatku terpesona. Pemandangan yang begitu lama tak saya rasakan. Seolah menjadi teman yang menemani perjalan saya kali ini. Tak salah jika banyak wisatawan yang akan rindu tuk kembali ke pangkuanmu. 


TAGS   Laskar Gerhana detikcom / Ternate / Benteng Kastela /


Author

Saya mengamati semua sahabat, dan tidak menemukan sahabat yang lebih baik daripada menjaga lidah. Saya memikirkan tentang semua pakaian, tetapi tidak menemukan pakaian yang lebih baik daripada takwa. Saya merenungkan tentang segala jenis amal baik, namun tidak mendapatkan yang lebih baik daripada memberi nasihat baik. Saya mencari segala bentuk rezeki, tapi tidak menemukan rezeki yang lebih baik daripada sabar. —Umar bin Khattab—

Recent Post

Komentar Terbaru

Arsip Tulisan