matahati katahati

Dulu Penuh Tahayul, Kini Penuh Daya Tarik

10 Feb 2016 - 15:00 WIB

 

Mengamati gerhana matahari total dari tepi pantai pasti asyik. [dok. pribadi]

 

Cerita tentang gerhana matahari, tak akan pernah luput dari cerita fiksi sebagaimana saya dengar, rasakan, dan alami. Kisah masa kecil yang tak begitu saja mudah saya lupakan. Sebab di masa lalu, fenomena gerhana matahari seolah menjadi justifikasi terhadap kejadian-kejadian buruk yang menimpa pasca gerhana. Hal tersebut membuat adanya ‘gugon tuhon’ (kepercayaan terhadap sesuatu yang gaib) bahwa jika tidak ingin celaka, harus menlaksanakan ritual tertentu.

 

Ritual yang aneh-aneh tersebut seringkali dibiarkan, atau bahkan ‘dilestarikan’. Para ulama atau ustaz di masa kecil saya dulu rupanya tidak terlalu mempermasalahkan ritual yang terjadi di masyarakat. Meski lambat laun, dengan kemajuan teknologi informasi dan komunikasi akhirnya masyarakat mau belajar. Fenomena gerhana, khususnya gerhana matahari adalah fenomena alam yang justru kita harus dapat mengambil pelajaran darinya.

 

Nah, bagi para anak-anak atau remaja era 70-an, tentu tak akan kaget dengan ritual yang aneh-aneh tersebut. Beberapa ritual aneh yang sempat saya alami tentu akan menjadi pelajaran berharga bagi generasi saat ini. Oh, yang model seperti itu memang benar-benar ada to? Kegiatan yang ‘tak masuk akal’ tapi diyakini kebenarannya saat itu.

 

Lalu seperti apakah ritual tersebut? Berikut ini beberapa aktivitas ‘nyleneh’ dan ‘antik’ menjelang, pada saat, dan setelah gerhana matahari terjadi.

  1. Menutup seluruh pintu dan jendela agar para lelembut jahat tidak sampai memasuki rumah kita (sebelum s.d. selesai gerhana matahari berlangsung).
  2. Anak-anak yang belum akil baligh tidak dperbolehkan ke luar rumah. Jika sudah terlanjur ke luar rumah, maka saat gerhana matahari berlangsung harus bergelayut di dahan pohon. Sebab diyakini bila bayangan gerhana bisa membuat tubuh anak-anak menjadi kerdil/cebol.
  3. Bagi yang menyimpan beras (untuk ibu-ibu) maka beras tersebut harus dibersihkan kotorannya (ditampahi. Jw.) selama berlangsung gerhana. Hal tersebut dimaksudkan agar tidak sampai kekurangan bahan makanan pasca gerhana berlangsung. Sebab diyakini bahwa gerhana matahari akan membawa bencana (pageblug. Jw.). Akibatnya akan terjadi kekeringan berkepanjangan dan minimnya beras/bahan makanan.
  4. Memasukkan hewan-hewan ternak ke dalam kandang agar tidak terkena wabah penyakit (pageblug. Jw).
  5. Memukul atau membuat tetabuhan agar para maluk halus yang berwatak jahat menjauhi pemukiman kita.
  6. Tidak memandang ke arah matahari saat terjadi gerhana matahari agar mata kita tidak buta.

 

Cukup aneh dan lucu bukan? Faktor ketidaktahuan atau kurangnya informasi membuat hal tersebut terjadi. Kemajuan Iptek lambat-laun membuat kita berpikir bahwa justru fenomena tersebut dapat dijadikan bahan eksplorasi dan penelitian. Maka akan mubazir sekali jika kita menyia-nyiakan gerhana matahari yang terjadi tersebut. Sebagaimana gerhana matahari total (GMT) yang akan melintasi sebagian wilayah Nusantara pada 9 Maret Nanti.

 

Sebab kejadian tersebut sangatlah langka. Terakhir GMT terjadi pada 21 tahun yang lalu, tepatnya tanggal 24 Oktober 1995 yang melintasi negeri ini. Aapalagi diperkirakan bahwa GMT akan melintasi negeri ini baru kan terjadi sekitar 350 tahun lagi yang akan datang. SubhanAllah, maka momen teramat dan sangat langka tersebut saat ini akan menjadi ‘perburuan’ bagi para peneliti, pemerhati lingkungan, maupun para wisatawan. Sebab tidak semua daerah di Indonesia yang dilintasi.

 

Adapun beberapa kota besar yang akan dilintasi oleh GMT tersebut diantara adalah: Palembang (Sumsel), Bangka dan Belitung, Sampit dan Palangkaraya (Kalteng), Balikpapan (Kaltim), Palu, Poso, dan Luwuk (Sulteng), Ternate dan Halmahera (Malut), serta Provinsi Sulbar, Jambi, Bengkulu dan Kalbar. Sementara itu, sebagaian masyarakat di beberapa kota besar juga bisa melihat gerhana matahari tersebut meski hanya sebagian. Kota-kota tersebut diantaranya: Padang, Jakarta, Bandung, Surabaya, Pontianak, Denpasar, Banjarmasin, Makassar, Kupang, Manado, dan Ambon. Sementara durasi GMT ini sendiri oleh LAPAN (Lembaga Antariksa dan Penerbangan Nasional) diperkirakan terjadi selama 1,5 hingga 3 menit. Semakin ke timur durasi GMT akan lebih panjang.

 

Bagi beberapa kota yang dilintasi GMT, tentu ini akan menjadi momen yang begitu ditunggu. Kesempatan dari seluruh elemen wisata daerah untuk menggerakkan seluruh potensi yang ada. Sebab sebagai konsekuansi logis peritiwa tersebut, tentu saja akan banyak wisatawan yang akan membanjiri daerah-daerah tersebut. Saat inilah menjadi salah satu momen yang sangat pemerintah daerah untuk ‘menjual’ peta potensi wisata daerahnya masing-masing.

 

Para wisatawan tentu tak akan melewatkan satu momen itu saja (GMT). Mereka juga pasti akan mencari destinasi menarik lainnya, baik berupa potensi wisata alam, kuliner, maupun budaya. Pun demikian juga bagi para traveler sendiri. Momen tersebut menjadi ajang silaturrahin dengan para traveler lintas daerah, bahkan lintas daerah. Tak terkecuali bagi para blogger pecinta perjalanan dan pernak-pernik dari daerah yang disinggahinya.

 

Maka bagi saya yang begitu menyukai perjalanan, kuliner, serta pernak-pernik masyarakat tujuan wisata berharap tak akan menyia-nyiakan momen ini. Sudah ada beberapa kota yang menjadi ‘incaran’ saya. Namun kesempatan yang diberikan oleh Detikcom via Blog Detik semoga tidak akan saya sia-siakan. Menjadi bagian dari 50 Laskar Gerhana detikcom tentu akan memberikan sensasi tersendiri. Berkomunitas, jalan-jalan, sekaligus saling bertukar ilmu dan pengalaman. Tentu akan sangat membahagiakan jika menjadi salah satu bagiannya.

Namun dibalik fenomena GMT dan riuh rendahnya berbagai acara yang akan disiapkan di berbagai daerah, ada satu pelajaran penting yang tak boleh dilupakan. Ini menjadi bekal bagi muslim yang ingin mentadabburi fenomena alam ini. Sebagaimana sebuah kisah yang termaktub dalam HR. Bukhari Nomor: 998.

 

Telah menceritakan kepada kami Abdullah ibn Muhammad berkata, telah menceritakan kepada kami Hisyam telah mengabarkan kepada kami Ma’mar dari Az-Zuhri dan Hisyam ibn ‘Urwah, dari ‘Urwah dari ‘Aisyah berkata, “Pernah terjadi gerhana matahari pada zaman Rasulullah sallAllahu ‘alaihi wassalam. Maka beliau berdiri melaksanakan salat bersama orang banyak, beliau memanjangkan bacaan, lalu rukuk dengan memanjangkan bacaan rukuk, kemudian mengangkat kepalanya, lalu membaca lagi dengan memanjangkan bacaannya namun tidak sepanjang sebagaimana bacaan yang pertama. Kemudian beliau rukuk lagi dengan memanjangkan rukuk, namun tidak sepanjang rukuk yang pertama, lalu mengangkat kepalanya kemudian sujud dua kali. Beliau kemudian berdiri kembali dan mengerjakan sebagaimana pada rakaat pertama. Setelah itu beliau bangkit dan bersabda, “Sesungguhnya matahari dan bulan tidak akan mengalami gerhana disebabkan karena mati atau hidupnya seseorang, akan tetapi keduanya adalah dua tanda dari tanda-tanda kebesaran Allah, yang Dia perlihatkan kepada hamba-hambaNya. Jika kalian ingin melihat keduanya, maka segerakanlah mendirikan salat.

 

Demikianlah kejadian gerhana matahari atau gerhana bulan yang terjadi di masa Rasulullah. Bahwa ada pelajaran yang bisa diambil dari fenomena alam tersebut. Jauh dari apa yang selama ini beredar cerita-cerita mistik (tahayul) di masyarakat bahwa akan terjadi peristiwa ini atau peritiwa itu pasca gerhana. Ada ilmu pengetahuan serta pengalaman yang dapat kita ambil dalam setiap peristiwa. Yang penting lagi bahwa ingat jalan-jalan, jangan lupa juga tuk menyisihkan waktu tuk tunaikan salat sunnah gerhana.

Selamat menikmati!

 

 

——————————–

[Pos ini 90% orisinal menggunakan tes plagiat.]


TAGS   Laskar Gerhana detikcom /


Author

Saya mengamati semua sahabat, dan tidak menemukan sahabat yang lebih baik daripada menjaga lidah. Saya memikirkan tentang semua pakaian, tetapi tidak menemukan pakaian yang lebih baik daripada takwa. Saya merenungkan tentang segala jenis amal baik, namun tidak mendapatkan yang lebih baik daripada memberi nasihat baik. Saya mencari segala bentuk rezeki, tapi tidak menemukan rezeki yang lebih baik daripada sabar. —Umar bin Khattab—

Recent Post

Komentar Terbaru

Archive