matahati katahati

Blogdetik (Seharusnya) Berani Menerima Kritik

7 Sep 2015 - 10:32 WIB

Sebelumnya saya mohon maaf nih kepada para admin Blogdetik. Wa bil khusus kepada para kreatornya. Tulisan saya ini sama sekali bukan karena rasa tidak senang saya. Sama sekali bukan. Tapi semata-mata kecintaan saya kepada blog komunitas yang telah membesarkan saya.

Tak terasa 2 tahun lebih saya ngeblog di Blogdetik. Suka dan duka saya rasakan. Meski rasa suka terus terang lebih banyak saya rasakan di 1,5 tahun awal. Namun rasa duka saya rasakan di 1/2 tahun terakhir ini. Bukan apa-apa sih. Cuma akhirnya saya begitu amat malasnya untuk ngeblog di Blogdetik. Tulisan lebih banyak saya posting di blog pribadi atau blog komunitas lainnya. Otomatis, produktivitas menulis di Blogdetik pun menurun amat drastis banget. Bahkan ada yang dalam 1 bulan sama sekali tidak artikel postingan.

Saya yakin, hal ini juga banyak dirasakan oleh blogger Blogdetik lainnya. Sebab saya berkomunikasi dengan mereka yang berasal dari berbagai kota. Akhirnya hal ini juga berimbas pada kontributor yang sering berseliweran di HL atau blog pilihan. Itu dan itu lagi. 

Jangan tanya update HL atau blog pilihan deh. Masih jauh rasanya. Padahal ‘kehidupan’ satu blog komunitas akan nampak pada trending topik, HL, blog pilihan, atau tulisan terbaru. Bagaimana bisa hidup? Jika dalam satu jam tak lebih dari 3 atau 4 saja blog saja yang tayang. Boleh dibandingkan dengan yang lain lho. 

Belum lagi HL yang sampai bulukan. Tayang lebih dari 2 hari. Apakah dalam 1 hari tak ada tulisan yang berkualitas? Sehingga tulisan HL harus ‘nongkrong’ sampai 2 hari lebih. Come on

Jika yang terjadi memang demikian, artinya ada masalah bukan? Artikel yang sehari tak lebih dari 150 biji. Bisa banyak kalau pas lagi ada lomba saja. Itu pun seringkali Blogdetik tidak berani mewajibkan para blogger untuk posting menggunakan platform Blogdetik. Artinya, nilai tawar Blogdetik di mata para blogger dianggap kurang prestisius.

Kejadian terakhir adalah ‘operasi plastik’ yang dilakukan oleh Blogdetik. Seharusnya hasilnya semakin bagus bukan? Kok ini saya rasakan sebaliknya. Saya bandingkan dengan ‘wajah lama’ yang cukup familiar dengan para blogger. Termasuk dengan blogger non Blogdetik. Mereka dengan nyaman dan bergembira bisa memberikan komen. Meski kadang kesulitan karena terhalang captcha. Coba bandingkan dengan tampilan saat ini! Untuk mendapatkan 1 komen saja sudah setengah mati.

Saya terus terang cukup salut dengan beberapa orang blogger Blogdetik yang tetap begitu setia. Sebab mereka tak terlalu direpotkan dengan urusan kode-kode CMS atau HTML. Tapi bagi saya yang blogger apalah itu, hal itu tentu menjadi masalah. Apalagi jika lintasan loading macet di tengah. Tinggal pilih ‘stop‘ dan ‘close‘. Ituh sajah.

Nah, masukan saya. Mengapa sih para admin tak meluangkan waktu untuk membuat riset kecil-kecilan sebelum berganti wajah. Atau jika sudah, berarti saya memang tak tahu kalau ada survey itu. Ibarat istri, meski telah nikah 30 tahun pun tetap cihuy dan asoy. Sebab selalu ada komunikasi untuk saling mengingatkan penampilannya. Contoh sederhana ini paling tidak akan menempatkan saya atau para blogger yang lain menjadi suami atau istri.

Sebab bagaimanapun, keberhasilan blog komunitas tak akan bisa digapai kalau kurang adanya respons aktif dari para bloggernya. Kritik anggaplah sebagai ungkapan: benci tapi rindu. Keberanian menerima kritik, menunjukkan seberapa besar kemampuan diri kita untuk beradaptasi di lapangan. Dan…sekali lagi maafkan kenyinyiran saya. Nyinyirnya seorang blogger yang beralex 600 ribuan setahun yang lalu, menjadi 5 jutaan di tahun ini. Apalah saya ini. Salim salaman dulu ya. 

Tetap semangat dan maju tuk Blogetik.


TAGS   Blogdetik /


Author

Saya mengamati semua sahabat, dan tidak menemukan sahabat yang lebih baik daripada menjaga lidah. Saya memikirkan tentang semua pakaian, tetapi tidak menemukan pakaian yang lebih baik daripada takwa. Saya merenungkan tentang segala jenis amal baik, namun tidak mendapatkan yang lebih baik daripada memberi nasihat baik. Saya mencari segala bentuk rezeki, tapi tidak menemukan rezeki yang lebih baik daripada sabar. —Umar bin Khattab—

Recent Post

Komentar Terbaru

Arsip Tulisan