matahati katahati

Berpuasalah Agar Kalian Sehat?

1 Jul 2015 - 17:05 WIB

25e0c9d7e132ec8d49ad10af7d1acccc_jkn

Sebuah hadis masyhur yang biasa kita temukan saat bulan Ramadan, “Berpuasalah maka kamu akan sehat“. Hadis ini disebutkan oleh Ibnu Adi dalamAl-Kamil, 2:357, dari jalur Husain bin Abdullah bin Dhamirah, dari ayahnya, dari kakeknya, dari Ali bin Abi Thalibradhiallahu anhu, bahwa Nabishallallahu alaihi wa sallambersabda demikian. Sanad hadis ini rusak, karena Husain bin Abdullah bin Dhamirah dinilai pendusta oleh Imam Malik. Abu Hatim mengatakan: “Hadisnya dibuang, sang pendusta.”

Imam Ahmad mengatakan, “Tidak perlu digubris sedikitpun.” (Lisan Al-Mizan 2/289). Begitu juga para ahli tafsir hadis yang menyampaikan bahwa hadis tersebut memiliki derajat hadis lemah (daif). Diantara adalah Al-Hafiz Al-Iraqi dalam kitabnya Tahrijul Ihya’ (3/108), Nasiruddin Al-Albani dalam kitab Al-Silsilah Ad-Daifah (No.253). Bahkan As-Saghani secara agak berlebihan mengatakan bahwa hadis ini palsu (maudu’) di dalam kitab Maudu’ at As-Saghani.

Hal ini perlu dijelaskan sebab sudah seharusnya diantara sesama muslim untuk saling mengingatkan. Utamanya yang menyangkut ketentuan hukum pada suatu perbuatan. Hal ini sebagaimana ancaman Rasulullah sallallahu ‘alaihi wa sallam kepada orang yang meyampaikan hadis dusta yang mengatasnamakan beliau. Sebagaimana sabda beliau:

Barangsiapa yang menyampaikan suatu hadis dariku, sementara dia menyangka bahwasanya hadis tersebut dusta, maka dia termasuk diantara salah satu pembohong. (HR. Muslim dalam Muqaddimah Shahihnya, 1:7)

Namun lepas dari lemah atau palsunya hadis tersebut maka ada 2 pertanyaan yang perlu disampaikan.

  1. Jika berpuasa itu sehat, mengapa Allah Ta’ala memperbolehkan orang yang sakit untuk membatalkan puasanya?
  2. Beberapa kasus, ketika orang berpuasa pada bulan Ramadan, sakitnya malah kambuh?

Nah, ada beberapa simpul yang perlu diurai, agar kita terbiasa untuk tidak menerima dalil mentah-mentah. Seperti pertanyaan pertama, bahwasannya Allah memberikan keringan (ruhsya) kepada umatnya dalam menjalankan ibadah wajib. Seperti salat, diberikan keringanan bagi mereka yang bepergian jauh untuk menjama’ dan atau mengqasar. Demikian pula halnya dengan puasa di bulan Ramadan. Allah pun memberikan keringanan kepada mereka yang memiliki sakit tetap (tua/gila) maupun sakit yang bersifat temporer.

Artinya, puasa memang diperuntukkan bagi setiap diri setiap muslim. Dengan beberapa perkecualian terhadap orang yang sakit. Jika memang puasa memang membuat sehat, maka orang yang sakit pun seharusnya berpuasa, bukan?

Sebenarnya masalah makan itu adalah masalah gaya hidup atau gaya makan. Jika pada hari-hari biasa, kita seyogyanya makan sesuai dengan kadarnya. Tidak berlebihan. Pun demikian pada saat puasa Ramadan. Secara teknis, makan pada bulan Ramadan sebenarnya bukan mengganti waktu atau jam makan. Namun lebih dari itu. Bahwa dalam bulan puasa kita berlatih diri untuk menekan nafsu apa saja. Termasuk di dalamnya nafsu untuk makan di siang hari.

Dampak sehat secara fisik dalam berpuasa adalah kita bisa lebih mengandalikan diri untuk tidak ‘rakus’. Sehingga dengan ritme yang teratur dalam mengkonsumsi makanan itulah yang akan membuat diri kita sehat. Sebab ada waktu jedah tubuh untuk melakukan metabolisme dengan baik. Di situlah kita temukan dampak positifnya.

Kemudian menjawab pertanyaan ke-dua, tentu dalil atau hadis tersebut tidak dapat dijadikan landasan (hujjah). Sebagaimana orang yang sakit typhus atau yang sedang di rawat di rumah sakit. Tentu dokter untuk sementara melarang untuk berpuasa. Sebab adanya tindakan-tindakan medis maupun asupan makan/minum yang konsisten dibutuhkan. Hal itu semata-mata untuk membantu proses kesembuhan.

Jadi kesimpulannya, pada beberapa kasus, puasa memang akhirnya bisa membuat untuk menjadi sehat. Sebab secara kebiasaan, akan membuat kebiasaan ‘rakus’ pada makanan jadi lebih terkendali. Jika pun menjadikan hadis tersebut sebagai dasar, maka harus dijelaskan juga bahwa hadis tersebut lemah. Jelasnya, tujuan puasa itu sendiri adalah sebagaimana termaktub dalam Al-Qur’an Surat Al-Baqarah 183 yaitu agar menjadi orang yang bertakwa. Siapakah orang yang bertakwa itu?

Orang yang bertakwa adalah orang-orang yang sabar, yang benar, yang tetap taat, yang menafkahkan hartanya (di jalan Allah), dan yang memohon ampun di waktu sahur. (TQS 3:17)


TAGS   #ngaBLOGburit2015 /


Author

Saya mengamati semua sahabat, dan tidak menemukan sahabat yang lebih baik daripada menjaga lidah. Saya memikirkan tentang semua pakaian, tetapi tidak menemukan pakaian yang lebih baik daripada takwa. Saya merenungkan tentang segala jenis amal baik, namun tidak mendapatkan yang lebih baik daripada memberi nasihat baik. Saya mencari segala bentuk rezeki, tapi tidak menemukan rezeki yang lebih baik daripada sabar. —Umar bin Khattab—

Recent Post

Komentar Terbaru

Archive