matahati katahati

Ricky Elson dan Fenomena Optimisme

7 Sep 2015 - 09:32 WIB

Pagi ini, pukul 07.27 Wib, Ricky Elson menulis status seperti di bawah ini dalam FB-nya.

 

Perjalanan

Hari ini, hemm Banget

Selepas Subuh naik PropoJet

Bu Susi dari Pangandaran,

nyampe Halim dijemput Kang Hidin.

 

Rindu Kah? Beliau.

Atau bakalan kena marah nih

sama Abah. Moga2 yg pertama.

 

Apapun itu,

Sejenak meninggalkan Ciheras

dengan segala kesederhanaannya.

 

Selamat Pagi.

20150907.

Setori ini Negriku.

—————————–

Sebuah status yang ditulis bak puisi. Terasa nafas riang, kepo, dan optimisme. Riang karena di Ciheras, tempat berlabuh Ricky Elson saat ini, banyak ide-ide dan semangat berbagi ilmu dan pengalaman. Berbondong-bondong para pemuda negeri untuk saling berbagai. Mereka yang tak pernah merasa putus asa mendarmakan bakti bagi pertiwi.

Kepo, karena memang tak begitu biasanya Dahlan Iskan, biasa dipanggil dengan Pak Dis, atau Abah oleh kebanyakan orang dekatnya. ‘Memanggil’ seseorang untuk menemuinya. Bahkan tak tanggung-tanggung, dijemput dengan kendaraan pribadi beliau, L 1 JP. Mobil pemilik salah satu penerbitan besar di negeri ini.

Karena Dahlan Iskan-lah, Ricky Elson berani menentang kemapanannya di Jepang. Meninggalkan kursi empuk peneliti di sebuah perusahaan elektronik internasional, pulang untuk memenuhi panggilan pertiwi. Berkolaborasi dengan beberapa pihak yang berkompeten untuk menciptakan mobil listrik. Dengan modal dari gaji Pak Dis sebagai Meneg BUMN dan dana CSR dari beberapa BUMN, lahirlah beberapa prototipe mobil listrik. Dimana untuk Selo, khusus dibiayai dari kocek Pak Dis.

Proyek uji coba itulah yang akhirnya justru menyeret Dasep Ahmadi, salah satu sahabat Ricky Elson meringkuk di balik jeruji besi. Tak urung banyak pihak meradang. Karya anak bangsa yang masih butuh proses panjang ke depan, tiba-tiba diputus di pangkal pengharapan. Para mafia importir mobil pun bersorak kegirangan. Pun dengan Ricky Elson yang ikut terseret kasus ‘kriminalisasi’ bersama Pak Dis.

Tentu berita tersebut membuat masyarakat pecinta negeri menjadi masygul. Mengapa karya anak negeri selalu saja diabaikan. Bahkan dipinggirkan dengan semena-mena. Janji muluk-muluk calon presiden yang kini jadi presiden pun seolah menjadi pepesan kosong. 

Hingga, jagat maya kembali riuh. Saat di status FB-nya, Ricky Elson menuliskan bahwa sebuah perusahaan asal M berminat untuk mengajaknya bekerjasama. Tak urung, pejabat sekelas Kepala BPPT, Unggul Priyanto sempat membuat pernyataan sumir tentang Selo. Bahwa teknologi mobil listrik seperti Selo masih belum dibutuhkan oleh negeri ini. Duh!

Rupanya beberapa pernyataan di media massa, akhirnya mengusik kekepoan Pak Dis mungkin. Sehingga perlu kembali untuk ‘memanggil’ Ricky Elson pagi. ‘Sang Penari Angin’ ini rupanya tak kurang kepo juga rupanya. Di sela-sela panen lelenya, Uda Ricky ini pun berangkat ke Jakarta.

Namun, seiring 3 tahun perjalanan waktu, Ricky Elson menyadari bahwa tak mudah memang untuk berjuang di negeri ini. Tak berniat menjadi pahlawan pun, akan dijuluki pahlawan kesiangan. Sebab kepentingan asing dan pimpinan yang korup telah berkolaborasi dengan manis dengan para konglomerat busuk. Kekayaan negara dieksplotasi sebesar-besarnya demi kemakmuran dirinya. Sementara masyarakat dijejali dengan barang-barang impor untuk menaikkan nafsu konsumerismenya. 

Menjadi petani benar-benar menjadi harapan yang potensial untuk membiayai penelitiannya. Rasional tapi absurd jika menghitung kebutuhan sebenanrnya untuk riset sebuah mobnas listrik agar layak jual. Optimisme itu masih dipelihara oleh Ricky Elson walau kegalauan itu nampak nyata di depan mata dan saat ini diarasakannya.

Entahlah, sampai kapan elit negeri ini bisa menghargai karya cipta anak negerinya. Sehingga mereka tak perlu jauh-jauh untuk berkarya dan mengembangkan potensinya di negeri orang. Pertanian sepertinya telah dianaktirikan. Sementara riset teknologi dikebirikan. Ricky Elson menjadi sebuah fenomena yang melawan arus. Tetap optimis, meski harus dipinggirkan.

 

sumber gambar: 1 dan 2.

 


TAGS   Selo /


Author

Saya mengamati semua sahabat, dan tidak menemukan sahabat yang lebih baik daripada menjaga lidah. Saya memikirkan tentang semua pakaian, tetapi tidak menemukan pakaian yang lebih baik daripada takwa. Saya merenungkan tentang segala jenis amal baik, namun tidak mendapatkan yang lebih baik daripada memberi nasihat baik. Saya mencari segala bentuk rezeki, tapi tidak menemukan rezeki yang lebih baik daripada sabar. —Umar bin Khattab—

Recent Post

Komentar Terbaru

Arsip Tulisan