matahati katahati

Yang Sunnah, Yang (Biasa) Dilupakan

23 Jun 2015 - 16:11 WIB

Menyiapkan hidangan kurma untuk iftar puasa Ramadhan. (Dok. pribadi)

Menyiapkan hidangan kurma untuk iftar puasa Ramadhan. (Dok. pribadi)

Yang sunnah, tapi (biasa) dilupakan di bulan Ramadhan atau bulan-bulan lainnya. Apakah gerangan hal tersebut? Jawabnya adalah KURMA. Siapa sih yang tak mengenal buah kurma atau ruthob? Saya yakin, sahabat semua pasti sudah mengenalnya. Minimal pernah mencicipinya.

Dalam kenyataannya, ternyata masih ada juga saudara muslim yang belum pernah mencicipinya. Hal ini pernah saya temui pada sebuah desa di daerah Jogja bagian selatan. Meskipun sebagian besar penduduk kampung tersebut adalah muslim. Cukup memprihatinkan bukan? Padahal kalau dilihat dari segi tempat tinggal (rumah), umumnya cukuplah mentereng.

Padahal kita tahu, bahwa Rasulullah tak pernah meninggalkan iftar (membatalkan) puasa tanpa menyantap kurma. Bila pun tak ada, maka air putih cukup menjadi pembatal puasa. Hal ini sebagaimana sabda beliau dalam sebuah hadis:

Rasulullah sallallahu ‘alaihi wa sallam biasanya biasanya berbuka dengan ruthob (kurma basah) sebelum menunaikan shalat. Jika tak ada ruthob, maka beliau berbuka dengan tamar (kurma kering), dan jika tidak ada yang demikian, maka beliau berbuka dengan seteguk air.” (HR. Abu Daud No. 2356 dan Ahmad III/164. Hadis ini hasan dan sahih)

Salah Kiprah

Kita lihat saat jelang berbuka puasa, berderet penjual makanan ‘tiban’. Pun pada puasa Ramadhan 1436 H. kali ini. Pada umumnya adalah menjual makanan, baik itu sayur, lauk-pauk maupun kudapan untuk berbuka puasa. Tapi bisa kita hitung dengan jari, berapa pedagang yang menjual kurma. Padahal dari segi harga, kurma jauh lebih murah dibandingkan macam-macam jenis kolak, jus buah, asinan atau makanan kecil lainnya.

“Lha, berbuka kan baiknya dengan yang manis-manis?” Demikian sebagian dari kita pada umumnya jika ditanya, mengapa berbuka dengan kolak, es jus, es campur, atau sebangsanya.

“Betul. Makanan yang bersifat manis (mengandung gula) akan cepat memulihkan energi kita yang terkuras pada saat berpuasa,” begitu biasa saya menimpali. “Tapi akan lebih baik dan afdhal lagi jika kita berbuka dengan kurma. Sebab selain mendapat manfaat kesehatan, kita juga akan mendapatkan pahala atas sunnah yang telah dicontohkan oleh Rasulullah.”

Salah satu pusat kurma di kawasan Ampel Surabaya. (Dok. pribadi)

Salah satu pusat kurma di kawasan Ampel Surabaya. (Dok. pribadi)

Nah, rupanya salah kiprah atau kebiasaan itu rupanya terjadi juga di lingkungan kita lho. Sederhananya begini. Coba kita cek masjid atau mushala yang menyediakan kurma untuk iftar puasa Ramadhan atau puasa sunnah lainnya. Pasti bisa dihitung dengan jari.

Yuk, Biasakan Diri Berbuka dengan Kurma

Ini Indonesia, Bung, bukan Arab!

Ah sudahlah. Untuk urusan perbuatan yang disunnahkan Rasulullah, jangan berpikir seperti itu. Mau di Arab, di Indonesia, di Jepang, di Amerika, di Kutub Utara sekalipun, sunnah tetaplah sunnah. Mari kita biasakan berbuka dengan kurma dengan berbilang ganjil. Lalu lanjutkan dengan shalat Maghrib berjamaah di masjid atau mushala bagi kaum lelaki. Baru deh kemudian menyerbu hidangan makanan besar. Tapi ingat, jangan berlebihan! Simpan amunisinya dulu, agar tak begah saat tunaikan shalat Tarawih.

Kalau mau hitung-hitungan nilai keekonomisan, kurma jelas lebih murah kok. 3 - 5 biji kurma jenis Madinah, harganya tak lebih dari 3.500 rupiah. Bandingkan dengan harga es kolak sebungkus. Bisa 5.000 - 10.000 rupiah kan? Padahal dari segi manfaat, 3 - 5 biji kurma tak kalah khasiatnya dibandingkan dengan sebungkus es kolak atau es campur. Lebih baiknya lagi, kita insya Allah akan mendapatkan pahala atas iftar kita tersebut.

Selamat berbuka puasa. Semoga Allah Ta’ala memberi keberkahan atas puasa Ramadhan 1436 Hijriyah kita kali ini.

ngaBLOGburit


TAGS   kurma / iftar / Ramadhan / #ngaBLOGburit2015 /


Author

Saya mengamati semua sahabat, dan tidak menemukan sahabat yang lebih baik daripada menjaga lidah. Saya memikirkan tentang semua pakaian, tetapi tidak menemukan pakaian yang lebih baik daripada takwa. Saya merenungkan tentang segala jenis amal baik, namun tidak mendapatkan yang lebih baik daripada memberi nasihat baik. Saya mencari segala bentuk rezeki, tapi tidak menemukan rezeki yang lebih baik daripada sabar. —Umar bin Khattab—

Recent Post

Komentar Terbaru

Archive