matahati katahati

Hati-Hati Membeli Kepala Ayam Matang

26 Feb 2015 - 11:24 WIB

Perhatikan luka sayatan/sobekan dalam lingkaran kuning. (dok. Andini)

Perhatikan luka sayatan/sobekan dalam lingkaran kuning. (dok. Andini)

Sebuah status Instagram dari sahabat blogger pagi ini membuat saya mengernyitkan dahi. Duh… entahlah, tiba-tiba saja saya ingin tuliskan sedikit pengalaman saya tentang makanan tersebut. Makanan yang berpuluh-puluh tahun begitu akrab dengan saya. Menu khas dan wajib angkringan khas Jogja.

Ndas pitik, atau kepala ayam adalah salah satu lauk andalan angkringan khas Jogja. Menu yang biasanya dibumbu manis ini hampir dipastikan mesti tersaji di gerobak angkringan. Demikian juga menu wajib lain seperti, tahu/tempe bacem, sate puyuh bacem, sate usus/sate jeroan, ceker dan kepala bacem. Tanpa bermaksud untuk mengurangi citra angkringan sebagai menu wajib khas Jogja, hal ini sebaiknya juga perlu diketahui.

Hampir sebagian besar penggemar angkringan adalah kaum muslim. Meski belum ada data valid yang membuktikannya. Paling tidak, hal ini bisa menjadi pengetahuan sekaligus rambu bagi Anda yang terlanjur menggandrunginya, termasuk saya sendiri. Jika kita amati dengan seksama gambar di atas, maka terlihat bahwa luka sayatan itu begitu kecil. Orang Jawa menyebutnya seperti ‘disudet’. Dengan kata lain, leher ayam tersebut tidak dipotong dengan sempurna.

Padahal sebagaimana tuntunan Rasulullah sallallahu alaihi wassallam menyatakan bahwa:

Sesungguhnya Allah mewajibkan berbuat baik kepada segala sesuatu. Apabila engkau membunuh, maka hendaklah membunuh dengan cara yang baik, dan jika engkau menyembelih, maka sembelihlah dengan cara yang baik, dan hendaknya seorang menajamkan pisau dan menenangkan hewan sembelihannya itu. | [Shahiih Muslim (III/1548, no. 1955), Sunan at-Tirmidzi (II/431, no. 1430), Sunan Abi Dawud (VIII/10, no. 2797), Sunan an-Nasa-i (VII/227), Sunan Ibni Majah (II/1058, no. 3170).

Cara menyembelih pun telah diatur dengan begitu detil dalam ajaran Islam. Termasuk menyembelih ayam yang seharusnya dengan memutuskan dua saluran utama: kerongkongan dan tenggorokan serta dua urat nadi. Memutuskan dengan cara memotong menggunakan pisau. Bukan mengait (menyudet) dengan mata pisau. Sehingga bekas potongan sangat kelihatan berbeda dengan bekas sudetan. Juga harus dipastikan bahwa tidak ada darah yang tertahan di dalam tubuh. Sementara jika dilakukan dengan cara menyudet, maka sangat dimungkinkan tidak semua darah mengucur lewat kerongkongan/tenggorokan dan dua saluran nadi. Coba perhatikan gambar di bawah ini.

Perhatikan bekas sembelihan yg menganga. (dok. Antarafoto)

Perhatikan bekas sembelihan yg menganga. (dok. Antarafoto)

Pada gambar tersebut di atas, sangat nampak bekas luka potong dibandingkan gambar pertama bukan?

Semoga dengan kejadian ini menjadi perhatian lagi kita sebagai muslim khususnya. Sebab makanan baik, jika tidak disiapkan dengan benar, maka akan jatuh pada keharaman. Sebaliknya, bagi para penyedia ayam sembelihan tersebut, agar lebih berhati-hati dalam memperlakukan sembelihannya. Sebaiknya disembelih dengan cara yang memenuhi syar’i bila dipasarkan untuk khalayak. Sehingga bisa menjadi berkah untuk semua. Berkah bagi penjual, pedagang angkringan dan pembeli tentu saja.

#SelamatSore #SmangatPagi


TAGS   angkringan / kuliner Jogja /


Author

Saya mengamati semua sahabat, dan tidak menemukan sahabat yang lebih baik daripada menjaga lidah. Saya memikirkan tentang semua pakaian, tetapi tidak menemukan pakaian yang lebih baik daripada takwa. Saya merenungkan tentang segala jenis amal baik, namun tidak mendapatkan yang lebih baik daripada memberi nasihat baik. Saya mencari segala bentuk rezeki, tapi tidak menemukan rezeki yang lebih baik daripada sabar. —Umar bin Khattab—

Recent Post

Komentar Terbaru

Archive