matahati katahati

Andai Polisi Mogok Kerja

3 Feb 2015 - 07:14 WIB

d19e67ef905b09edd4e7bde81b900ced_capture-pos-1-0302

Ha…ha…ha…ha…

Asli ngakak deh baca berita ini. Bila 425 Ribu Polisi Mogok Bisa Chaos, Kalau KPK Mogok Bisa Aman. Demikian pengacara Polri, Frederick Yunadi bicara di depan wartawan, Senin (2/2). Pasca gelaran pertama sidang pra-peradilan Komjen BG di PN Jakarta Selatan.

So what gitu lho

Sedemikian urgensinya kah, sehingga sang pengacara bicara demikian? Ini lah akibat kepentingan politik yang mengabaikan kepentingan rakyat. Saat kepentingan politik menabrak apa saja. Termasuk menabrak nurani sebagai anak bangsa.

Dia pikir, polisi itu yang menggaji siapa? Negara bukan? Lalu negara dapat duit dari mana? Apa bisa bim sala bim? Mikir dong. Ini negara, bukan pabrik sabun. Apalagi pabrik kaleng. Dimana karyawan bisa seenaknya demo atau mogok kerja.

Inilah akibat dari kebijakan pemimpin negara yang tak jelas. Masalah yang sumbernya dari satu orang, akhirnya merembet kemana-mana. Jelas sangat tidak produktif dan tidak cerdas bagi pendidikan politik bangsa. Buruknya pengambilan keputusan terhadap pelantikan Polri, akhirnya membuka masalah-masalah baru. Antar lembaga tinggi/lembaga ad hoc negara saling melemahkan.

Distorsi kepentingan politik kepada Polri sungguh amat menjatuhkan kewibawaan. Di saat kepercayaan masyarakat mulai tumbuh, di saat itu pula borok para petingginya terbuka. ‘Borok’ yang bernama suap, korupsi, atau sejenisnya menjadi penyebabnya. Polri sedang menelanjangi dirinya sendiri. Sebuah ‘atraksi’ politik yang sangat memalukan sekaligus memilukan.

Demikian juga yang terjadi pada KPK. Ketika kepercayaan dan harapan tinggi masyarakat sedang membumbung. Tiba-tiba dibungkam dengan kasus-kasus zaman dulu yang membelit 5 orang komisionernya. Entah benar atau tidak, saya pikir, mengapa tidak sejak dulu kasus itu dilaporkan. Ada apa dengan itu semua?

Entahlah, saya sendiri tidak tahu jawabannya. Sebab semua kasus tersebut belum ada gelar perkaranya. Apalagi yang namanya sampai dengan keputusan pengadilan. Yang saya tahu, muara itu semua adalah pemimpin negara (baca: presiden) yang tak memiliki kemandirian pikir. Tak memiliki keberanian untuk menjadi garda terdepan pembela keadilan rakyat.

Anggaplah saya rakyat yang #TidakJelas. Tapi saya punya KTP. Saya membayar pajak, serta pungutan-pungutan lain yang dipungut oleh negara. Lalu katakanlah jika perandaian saya benar. Polisi benar-benar mogok. Maka saya akan ngakak selepas-lepasnya. Ngakak sambil guling-guling mungkin.

Apakah negeri ini akan menjadi negeri yang segeblek-gebleknya. Dengan membiarkan aparat yang dibayar dari pungutan rakyatnya melakukan mogok. Kemudian pikiran nakal saya pun akhirnya sependapat dengan komen FB di gambar atas.

Hahahhh…polisi mogok malah lebih aman kayaknya negara ini…apalagi mogok korupsi….wkwkwkwkw.

#SelamatPagi #SmangatPagi


TAGS   Polri / KPK /


Author

Saya mengamati semua sahabat, dan tidak menemukan sahabat yang lebih baik daripada menjaga lidah. Saya memikirkan tentang semua pakaian, tetapi tidak menemukan pakaian yang lebih baik daripada takwa. Saya merenungkan tentang segala jenis amal baik, namun tidak mendapatkan yang lebih baik daripada memberi nasihat baik. Saya mencari segala bentuk rezeki, tapi tidak menemukan rezeki yang lebih baik daripada sabar. —Umar bin Khattab—

Recent Post

Komentar Terbaru

Arsip Tulisan