matahati katahati

Poligami, Antara Nafsu dan Cinta

2 Feb 2015 - 12:10 WIB

“Maaf ya, Mas. Tak bakal aku izinkan suamiku kawin lagi,” dengan wajah tegang Ima menatap ke arah saya.

“Kan salah satu pintu menuju surga bagi istri adalah mengizinkan suaminya untuk menikah lagi,” tukas saya.

“Nah, banyak pintu untuk menuju surga. Kalau tak lakukan satu hal itu kenapa?” tak mau kalah, Ima pun membantah pernyataan saya.

e65c962b6fd460f3663623aad8c0bdc0_1

Kemudian diskusi tentang poligami siang hari itu menjadi ramai. Maklum, saat itu kami berlima. Tentu saja masing-masing memiliki alasan untuk menerima atau tidak menerima poligami. Pandangan dari segi agama, kemaslahatan sosial dan ekonomi, atau psikologis dikemukakan.

Maklum saja, dengan latar belakang keilmuan akademik masing-masing diskusi menjadi menarik. Apalagi banyak contoh-contoh kejadian poligami yang dipampangkan. Baik yang dapat dikatakan ’sukses’ atau ‘gagal’. Baik yang sudah diekspos di media massa maupun yang kita jumpai dalam kehidupan sehari-hari.

Kemudian, setelah menelaah beberapa kasus, sampailah kami pada satu simpul. Poligami cenderung pada dua alasan besar, nafsu atau cinta. Ini berangkat dari dua sudut pandang yang berbeda tentu saja. Nah, bisa ditebak bukan? Siapa yang menyodorkan alasan nafsu. Siapa yang menyodorkan alasan cinta.

Argumen Poligami

Kaum perempuan lebih condong kepada pilihan yang pertama. Bahwa poligami yang dilakukan oleh para suami cenderung pada motif nafsu. Hal ini menjadi satu hal yang lumrah. Sebagaimana ungkapan umum yang terlontar dari para istri.

“Siapa sih, yang mau berbagi hati atas cinta suami kepada istrinya?”

“Bagaimana bisa bersikap adil, kalau pada istri sekarang saja belum bisa memberikan kebahagiaan yang seutuhnya?”

“Suami yang pikirannya nafsu saja, pasti maunya poligami.”

Demikian ungkapan yang sering kita dengar

Sangat manusiawi bukan? Siapa sih yang mau diduakan? Siapa sih yang pasrah saja, jika suaminya ‘direbut’ perempuan lain?

Sementara dari pihak suami, seringkali alasan cinta menjadi alibi. Meskipun jika ditanya, cinta seperti apa sehingga mau berpoligami. Padahal sang istri masih sehat, kuat dan normal. Lalu dimana komitmen awal saat mengucapkan ikrar pernikahan? Dahulu dia lihat apa? Sekarang dia lihat apa?

Dan jika kamu takut tidak bisa berbuat adil terhadap (hak-hak) perempuan yatim (bila kalian menikahinya), nikahilah wanita-wanita (lain) yang halal bagi kalian untuk dinikahi; (apakah) dua, tiga, atau empat. Namun, apabila kamu takut tidak bisa berlaku adil (di antara para istri bila sampai kalian memiliki lebih dari satu istri), maka (nikahilah) satu istri saja atau mencukupkan dengan budak perempuan yang kalian miliki. Hal itu lebih dekat kepada tidak berbuat aniaya.[TQS An-Nisa: 3]

Ayat di atas itulah yang menjadi dasar diperbolehkannya berpoligami. Tapi kata ‘boleh’ seringkali diselewengkan maknanya hanya untuk kepentingan tertentu. Menjadi ‘pembenar’ atas nama cinta untuk melakukan poligami. Tanpa melihat alasan syar’iyyah secara utuh.

Padahal meraih cinta yang sesungguhnya adalah dengan memperoleh ridha dari Allah Ta’ala. Menjalankan begitu banyak sunnah (perbuatan) Rasulullah selain poligami. Kemudian kita menyadarkan hati pada sandaran kesadaran yang paling dalam. Bahwa membangun bahtera rumah tangga adalah semata-mata bertujuan untuk mendapatkan keberkahan hidup. Tidak lebih dan tidak kurang.


TAGS   poligami /


Author

Saya mengamati semua sahabat, dan tidak menemukan sahabat yang lebih baik daripada menjaga lidah. Saya memikirkan tentang semua pakaian, tetapi tidak menemukan pakaian yang lebih baik daripada takwa. Saya merenungkan tentang segala jenis amal baik, namun tidak mendapatkan yang lebih baik daripada memberi nasihat baik. Saya mencari segala bentuk rezeki, tapi tidak menemukan rezeki yang lebih baik daripada sabar. —Umar bin Khattab—

Recent Post

Komentar Terbaru

Archive