matahati katahati

Pak Anies, Kerja Yuk!

11 Dec 2014 - 10:56 WIB

Anies Baswedan, Mendikbud RI. (Foto aniesbaswedan dot com)

Anies Baswedan, Mendikbud RI. (Foto aniesbaswedan dot com)

Prof. Dr. Anies Rasyid Baswedan, Ph.D. Sebuah nama keren yang dua bulan terakhir ini menjadi trending topik di kalangan para pendidik dan pengajar. Yang jelas bukan karena ganteng dan kerennya. Kalau ganteng dan keren sih sudah terkenal sejak dulu saat menjadi mahasiswa S1 di UGM.

Karir akademik yang cukup moncer menjadikannya salah satu profesor termuda di Indonesia. Kemudian menjadi rektor universitas (Universitas Paramadina) termuda (juga). Belum lagi berbagai aktivitas kerelawanannya dalam bidang pendidikan. Termasuk membuat terobosan program Indonesia Mengajar dengan Kelas Inspirasi dan Pengajar Muda. Berhasil memberikan inspirasi bagi ratusan ribu pemuda maupun para profesional untuk terlibat di dalamnya.

Aktivitas tersebut rupanya begitu menarik Jokowi, Presiden RI terpilih 2014 untuk mengajak bergabung di Kabinet Kerja. Maka didapuklah beliau sebagai Menteri Pendidikan dan Kebudayaan RI. Tentu saja sebagai Mendikbud baru banyak harapan yang digantungkan kepadanya. Namun rupanya, harapan itu sepertinya belum terlihat di awal kerjanya. Justru sebaliknya, banyak komentar atau tindakannya yang malah membuat gonjang-ganjing dunia pendidikan negeri ini.

Pertama kali membuat pernyataan tentang buruknya kondisi pendidikan di Indonesia. Kritik bertubi-tubi langsung mengarah. Menurut para kritikus, harusnya dia bertindak bukan malah melempar wacana sebagaimana para pengamat berpendapat. Sebab beliau adalah menteri, eksekutor kebijakan, bukan pengamat.

Blunder selanjutnya adalah tentang kritik beliau terhadap pelaksanaan Kurikulum 2013 (K-13 atau Kurtilas) yang disampaikan dalam pengarahan terhadap Kadinas Pendidikan se-Indonesia (1/12). Berlanjut kemudian dengan Surat Edaran Mendikbud RI tanggal 5 Desember 2014 tentang Penghentian Pelaksanaan Kurtilas. Sekolah-sekolah yang tak masuk sekolah model, diminta untuk kembali ke Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan 2006 (KTSP).

Belum lagi reda pro kontra masalah kurikulum, dimunculkannya ide untuk melarang doa bernafas Islam di sekolah negeri. Meski pada akhirnya tidakdilajutkan akibat kritik bertubi-tubi yang mencela ide ‘nyleneh’ tersebut. Nah, dua hari terakhir muncul pula kritik beliau akan banyaknya pungli di sekolah-sekolah pedalaman.

Aduh, piye gitu Pak Anies ini? Kerja saja yuk. Mari buat kebijakan yang baik dan konstruktif. Kurangilah kritik, karena Anda bukanlah lagi kritikus atau pengamat. Kalau toh ada pungli atau tindakan yang menjurus kriminal, proses hukum saja. Kalau tidak diberi efek jera, namanya pungli tetap pungli. Siapapun menterinya, kalau tak diberi efek jera, pungli pasti tetap jalan terus. Bukan hanya di sekolah pedalaman lho Pak Anies. Di kota pun malah lebih banyak lagi lho….


TAGS   Anies Baswedan /


Author

Saya mengamati semua sahabat, dan tidak menemukan sahabat yang lebih baik daripada menjaga lidah. Saya memikirkan tentang semua pakaian, tetapi tidak menemukan pakaian yang lebih baik daripada takwa. Saya merenungkan tentang segala jenis amal baik, namun tidak mendapatkan yang lebih baik daripada memberi nasihat baik. Saya mencari segala bentuk rezeki, tapi tidak menemukan rezeki yang lebih baik daripada sabar. —Umar bin Khattab—

Recent Post

Komentar Terbaru

Archive