matahati katahati

Secuil Cerita Di Hari AIDS Internasional

1 Dec 2014 - 10:57 WIB

b8af9972636e4967947a94c970cef3c4_aids

Setiap tanggal 1 Desember menjelang. Setiap itu pula ada kegundahan menyergap. Ada satu kenangan yang tak mungkin saya lupakan. Seorang sahabat meninggal dunia di sebuah rumah sakit dengan kondisi yang mengenaskan. Belum lagi perlakuan dari pihak manajemen rumah sakit yang tidak mengenakkan.

Sempat saya mempertanyakan perlakuan terhadap jenazah sahabat saya tersebut. Pihak rumah sakit pun saling lempar pernyataan. Bahwa bukan mereka yang berhak menjawab. Kemudian saya sampaikan bahwa saya dari Sahaja (Sahabat Remaja). Sebuah organisasi nirlaba yang selama ini getol memberikan edukasi kepada remaja. Utamanya pada aktivitas remaja dan dampak pergaulan bebas remaja.

“Saya memiliki lisensi untuk perawatan jenazah bagi ODHA (Orang Dengan HIV/AIDS),” demikian saya jelaskan kepada Kepala Instalasi Keperawatan. Sejurus kemudian beliau lebih lunak kepada saya.

Informasi yang selama ini ditutupi pun akhirnya disampaikan kepada saya. Tentu saja, terlebih dahulu saya diminta untuk membubuhkan surat pernyataan jika saya dapat mempertanggungjawabkan tindakan saya. Ditambah lagi memang ada mandat khusus dari keluarga sahabat saya tersebut agar bersedia membantu pengurusan jenazahnya. Satu hal yang selama ini rupanya ditutupi juga oleh pihak keluarga.

Saya dapat memaklumi. Bagi awam, HIV/AIDS seolah menjadi suatu laknat yang harus dihindari. Sehingga penderita atau ODHA juga harus dijauhi. Suatu tindakan yang memprihatinkan sebenarnya. Tapi pembenaran terhadap tindakan tersebut telah menjadi suatu hal yang lumrah. Bahkan terkesan wajib.

Namun bagi saya masih ada yang mengganjal. Jika bagi awam saya dapat memaklumi, tapi bagaimana dengan tenaga medis atau paramedis? Mereka juga seolah ‘ketakutan’ jika menghadapi pasien ODHA atau suspek ODHA. Padahal mereka tak begitu takut jika menangani pasien (suspek) TB. Meski mereka tahu bahwa penularan TB lebih mudah dibandingkan dengan penularan HIV/AIDS.

Kembali kepada jenazah sahabat saya tersebut. Akhirnya, bersama relawan dan petugas dari VCT, kami mengurus jenazahnya hingga ke pemakaman. Ada satu rasa kehilangan yang begitu terasa. Dia adalah seorang yang sangat ringan tangan. Begitu ringan tangannya, sehingga apabila ada masalah kesulitan seseorang di kampung, dia tak segan mengulurkan tangannya. Meski yang saya tahu, kadang dia menolong sesorang itu dengan berhutang kepada orang lain juga.

Lepas dia meninggal sebagai seorang ODHA, tapi tetap saya berdoa. Semoga Allah mengampuni dia dengan segala amal baiknya. Apalagi di saat-saat terakhir, dia begitu rajin untuk shalat berjamaah di masjid. Menyediakan takjil hingga buka puasa di saat puasa sunnah Senin-Kamis. Menghadiri majlis-majlis taklim yang kami adakan. Hingga menyilakan mobilnya digunakan untuk kegiatan anak-anak panti asuhan.


TAGS   HIV/AIDS / ODHA /


Author

Saya mengamati semua sahabat, dan tidak menemukan sahabat yang lebih baik daripada menjaga lidah. Saya memikirkan tentang semua pakaian, tetapi tidak menemukan pakaian yang lebih baik daripada takwa. Saya merenungkan tentang segala jenis amal baik, namun tidak mendapatkan yang lebih baik daripada memberi nasihat baik. Saya mencari segala bentuk rezeki, tapi tidak menemukan rezeki yang lebih baik daripada sabar. —Umar bin Khattab—

Recent Post

Komentar Terbaru

Arsip Tulisan