matahati katahati

Cukup Seratus Ribu Rupiah, Keliling Jogja dari Mojokerto

18 Sep 2014 - 09:28 WIB

Malioboro, view dari Halte TJ Malioboro 1. (Foto kolpri)

Malioboro, view dari Halte TJ Malioboro 1. (Foto kolpri)

Jogjakarta? Apa yang terpikir di benak pembaca pastilah berbeda-beda. Tapi saya yakin, ada satu kata yang terselip diantara, ‘eksotik’. Eksotisme itu pula yang mampu menyihir para wisatawan untuk hadir di sana. Bagi kebanyakan manusia Indonesia, belum Indonesia rasanya jika belum mengunjungi kota yang penuh pernak-pernik budaya tersebut.

Seringkali banyak diantara kita berpikir bahwa ke Malioboro atau ke Jogja pastilah butuh duit yang banyak. Hal itu bisa dikatakan benar atau sebaliknya. Benar jika kita ingin berkunjung ke Jogja dengan tujuan berbagai destinasi wisata, menginap di hotel dan belanja. Namun bisa juga sebaliknya. Bagi backpacker seperti saya, mengunjungi satu destinasi wisata yang jauh tidak harus mahal. Tapi tetap dengan paket hemat (pahe) namun berkesan.

Nah, hal itu pula yang mendorong saya untuk mengikuti tantangan ‘Jalan-Jalan Modal 100 Ribu‘ yang diadakan oleh BLOG JALAN JALAN. Perjalanan bondo nekat (bonek) ini tentu sedikit diperlukan pengalaman. Mojokerto-Jogjakarta menjadi rute yang saya pilih. Tujuan utamanya cukup ke Malioboro saja. Sebab ngubek-ubek Malioboro seharian penuh pun tak akan ada habisnya untuk di eksplorasi. Dari pengalaman saya ini, paling tidak akan membuat optimis para pembaca yang ingin ke Jogja dengan modal pas-pasan.

Perjalanan Mojokerto - Jogjakarta

Kebetulan rumah ada di Mojokerto. Maka pilihan berangkat dari Mojokerto tentulah akan lebih efektif. Pilihan bus AKAP (Antar Kota Antar Propinsi) akan membuat efektif dan egisien. Sebagaimana biasanya, langganan saya adalah dua perusahaan bus yang sudah cukup kondang. Mengingat perjalanan ini adalah perjalanan pahe, pilihan bus ekonomi AC adalah yang paling logis. Selain murah meriah, ditambah lagi akan mendapatkan ‘fasilitas’ diskon sebagai pelanggan setia.

Bus Mira sebagai tumpangan pertama menuju Jogja. (Foto kolpri)

Bus Mira sebagai tumpangan pertama menuju Jogja. (Foto kolpri)

Berangkat dari depan terminal Mojokerto, Sabtu (23/08) sekitar pukul 23.30 Wib. Saya pilih jam itu, sebab jika berangkat lebih sore, pasti akan kesulitan mendapatkan tempat duduk. Maklum, malam Ahad adalah waktu para pekerja luar kota pulang ke rumah masing-masing. Sebagaimana perkiraan saya, meski sudah hampir tengah malam, ternyata bus Mira yang saya tumpangi masih berjubel dengan penumpang. Sang kondektur rupanya cukup paham dengan ‘tampang’ saya.

“Nanti Mojoagung dan Jombang banyak yang turun, Mas,” demikian penjelesannya.

Lalu tanpa dikomando, segera saya berikan uang Rp. 20.000,- an sebanyak 2 lembar. “Langganan! Jogja, Mas,” setengah berteriak saya beritahukan tujuan saya. Maklum, jalanan cukup bising. Jika tidak berkata dengan lantang tentu kondektur akan berulang-kali tanya tujuan.

“Maaf ya, Mas. Nyampe Solo saja dulu, sambil lihat situasi,” sambil menghitung uang kembalian, dia memberitahukan rute terakhir bus. Saya cukup memaklumi, sebab biasanya sesampai di Solo, paling tak lebih dari 10 penumpang yang lanjut ke Jogja. Kemudian saya terima uang kembalian Rp. 11.000,-.

Mojokerto-Solo ‘cuma’ Rp. 29.000,-? Betul sekali, dengan mengucapkan kata ‘langganan’ kondektur sudah paham bahwa tarif untuk saya harus di diskon. Lumayan besar sih selisihnya. Jika penumpang biasa harus membayar dengan Rp. 37.000,-. Bisa hemat Rp. 8.000,- bukan?

Interior terminal 'baru' Tirtonadi yang cukup wah. (Foto kolpri)

Interior terminal ‘baru’ Tirtonadi yang cukup wah. (Foto kolpri)

Gate peron masuk bus AKAP. (Foto kolpri)

Gate peron masuk bus AKAP. (Foto kolpri)

Lalu setelah sampai Terminal Tirtonadi Solo, waktu menunjukkan masih pukul 04.15. Segera saja saya bergegas untuk ke mushola dulu. Setelah selesai sholat, saya lanjutkan perjalanan sambil memandang kagum kondisi terminal ‘baru’. Bangunan yang cukup luks dengan berbagai fasilitas penunjang yang cukup bagus juga. Setelah membayar peron Rp. 500,- di pintu masuk jalur bus antar kota langsung saya menuju jalur bus Jogja.

Bus AKAP Sby-Jogja biasanya sudah menunggu di depan pintu ini. (Foto kolpri)

Bus AKAP Sby-Jogja biasanya sudah menunggu di depan pintu ini. (Foto kolpri)

Ternyata bus Mira yang saya tumpangi tadi juga yang sudah menunggu. Setelah hampir separuh penuh, bus pun berangkat. Lalu tetap dengan kata ‘langganan’, saya sodorkan uang Rp. 10.000,-. Sang kondektur pun tersenyum, mungkin dia masih belum lupa dengan tampang saya. Bus pun melaju cukup kencang. Sebab kalau tidak demikian, dijamin akan terjebak macet akibat banyaknya truk-truk besar yang dialihkan lewat jalur selatan. Itu akibat Jembatan Comal yang tak kunjung selesai diperbaiki.

Di Jogjakarta

Mengingat tujuan saya adalah santai dan jalan-jalan, maka saya putuskan turun di Prambanan. Selanjutnya perjalanan akan saya lanjutkan dengan keliling bus murmer Trans Jogjakarta atau biasa disingkat TJ. Waktu menunjukkan pukul 06.15 Wib saat saya turun di Prambanan. Segera saya beranjak menuju halte bus TJ. Setelah duduk-duduk sebentar, saya segera menuju bus yang sudah siap tersedia.

Cukup dengan menempelkan kartu langganan. (Foto kolpri)

Cukup dengan menempelkan kartu langganan. (Foto kolpri)

Inilah penampakan Bus TJ yang melayani banyak rute. (Foto kolpri)

Inilah penampakan Bus TJ yang melayani banyak rute. (Foto kolpri)

Dengan tarif Rp. 3.000,- nanti saya akan berkeliling separoh wilayah Jogja. Kebetulan saya sudah berlangganan bus TJ, sehingga cukup dengan menempelkan kartu elektronik, lewatlah saya. Untuk menuju Malioboro tujuan saya, saya harus transit terlebih dahulu menggunakan Bus TJ nomor 3A di shelter Bandara Adisucipto. Sebagaimana Trans Jakarta (bagi yang sudah pernah naik) untuk pindah/transit antar koridor, tak perlu bayar lagi.

Setelah kurang lebih satu jam menyusuri Ring Road Timur, Selatan, Jalan Kaliurang, Laksda Adisucipto, Tentara Pelajar lanjut ke Pasar Kembang, sampai juga ke Halte TJ Malioboro 3. Masih pagi ternyata, pukul 07.45 Wib. Maka saya putuskan untuk keliling Pasar Beringharjo dulu. Kebetulan sudah lama sekali tidak ‘cuci mata’ di pasar tradisional tersohor ini. Masih banyak lapak yang belum buka. Maklumlah, ‘jam buka’ biasanya baru diawali pukul 08.00.

Barusan buka lapak. (Foto kolpri)

Barusan buka lapak. (Foto kolpri)

Jalanan dan parkir selatan Pasar Beringharjo pun masih senyap. (Foto kolpri)

Jalanan dan parkir selatan Pasar Beringharjo pun masih senyap. (Foto kolpri)

Selonjoran dulu di depan kios ini. (Foto kolpri)

Selonjoran dulu di depan kios ini. (Foto kolpri)

Keliling dari blok barat, tengah hingga timur. Dari lantai satu hingga lantai 3. Setelah cukup lelah kaki melangkah, maka menyelonjorkan kaki terlebih dahulu di bangku panjang milik pedagang yang lagi kosong. Letih mulai berganti, akhirnya melanjutkan acara jalan beneran ini. Tujuannya adalah museum Beteng Vredeburg, Alun-Alun Utara dan Keraton. Namun sayang, baterai kemare drop. Lupa tidak mengecek sebelum berangkat dari Mojokerto. Kebetulan indikator baterai juga sudah ’soak’.

Tak apalah, yang penting tetap jalan saja. Toh, kapan-kapan bisa balik lagi. Tak terasa, haus juga ternyata. Maka dengan Rp. 5.000,- dapatlah sebotol tanggung air mineral dan sebotol air berkarbonasi. Cukup lumayan untuk membuat kenyang. Tak terasa juga, adzan Dzuhur berkumandang di Masjid Besar Kauman. Maka dari halaman keraton, dengan masih tetap berjalan kaki saya menuju masjid tersebut.

Para siswa yang sedang sholat berjamaah Dzuhur. (Foto kolpri)

Para siswa yang sedang sholat berjamaah Dzuhur. (Foto kolpri)

Alhamdulillah, setelah sholat jamaah Dzuhur yang saya qashar dengan Ashar, saya berhasil temukan colokan listrik. Maka dengan meminta tolong bapak-bapak yang lagi nge-charge HP, akhirnya bisa gantian untuk mengisi batere kamera digital saya. Sekitar 30 menit saya beristirahat. Terhibur menyaksikan tingkah lucu dan lugu para siswa SD yang diawasi oleh para guru/pembinanya untuk melaksnakan sholat jamaah. Kebetulan di beberapa sekolah, meski hari Ahad siswa tetap masuk. Sebab libur sekolahnya adalah hari Jumat.

Mie godog Jowo plus telur rebus utuh di atasnya. (Foto kolpri)

Mie godog Jowo plus telur rebus utuh di atasnya. (Foto kolpri)

Setelah cukup puas beristirahat, kembali saya berjalan kaki menuju Pasar Beringharjo. Tujuan saya adalah blok tengah. Dimana para pedagang makanan menggelar lapaknya. Maka setelah sampai dan memilah serta memilih, pilihan jatuh ke bakmi Jawa godog plus telor. Kebetulan Pak Burhan pemilik kedai ini adalah kenalan saya sejak tahun 90-an dulu. Porsi yang saya peroleh pun cukup mantab. Hanya dengan Rp. 10.000,-, seporsi jumbo mie godog Jawa berhasil saya ‘tuntaskan’. Tentu saja yang ini membuat kenyang beneran.

Memandang Jalan Malioboro dari depan Kepatihan. (Foto kolpri)

Memandang Jalan Malioboro dari depan Kepatihan. (Foto kolpri)

Setelah sekitar setengah jam makan plus bercengkerama, akhirnya perjalanan saya lanjutkan. Menyusuri Jalan Malioboro yang cukup fenomenal itu tanpa bermaksud membeli apa-apa. Namanya juga cuma ‘jalan-jalan’. Tujuan saya adalah Halte TJ Malioboro 1 yang berada di depan Hotel Inna Garuda. Dengan kata lain, saya melintasi secara ‘utuh’ Jalan Malioboro mulai dari ujung selatan sampai ujung utara dengan berjalan kaki. Asyik banget tentunya…

Antrean di Halte TJ Malioboro 1. (Foto kolpri)

Antrean di Halte TJ Malioboro 1. (Foto kolpri)

Sekitar pukul 16.40 Wib, sampai juga di Halte TJ Malioboro 1. Calon penumpang rupanya sudah cukup padat. Maklumlah, jam pulang ke rumah menjelang. Kembali saya menempelkan kartu langganan saya, kemudian berdiri manis menunggu bus TJ. Tidak bisa duduk manis, sebab penuh dengan mbak-mbak dan ibu-ibu. Lady first gitu lah.

Tanpa menyia-nyiakan baterai yang sudah lumayan penuh, saya coba ambil beberapa gambar dari atas halte tersebut. Tak terlalu bagus hasilnya. Tapi lumayanlah untuk menggambarkan suasana petang Jalan Malioboro di hari Ahad. Tak terlalu ramai, juga tak terlalu sepi. Satu gambarnya saya pasang di awal postingan artikel saya ini.

Pulang ke Mojokerto

Menyempatkan diri untuk narsis. (Foto kolpri)

Menyempatkan diri untuk narsis. (Foto kolpri)

Dapat juga Bus TJ 3A tujuan Terminal Giwangan Jogja. Tentu saja, penumpang pun sudah berjubel. Itu pun bus ke-2 yang saya naiki. Setelah bus pertama sudah penuh sesak. Perjalanan cukup lancar. Sekitar pukul 18.00 sampai juga saya terminal. Mengingat sudah masuk Maghrib, saya sholat Maghrib dan Isya yang saya jama’ qashar. Tak lupa, membayar Rp. 1.000,- di ponten umum depan mushola.

Lelah mendera. Tapi itu semua cukup terbalaskan dengan lancarnya acara jalan-jalan sehari di Jogja. Segera pulang, sebab Senin pagi pekerjaan di rumah sudah menunggu. Kaki saya arahkan menuju keberangkatan bus arah Surabaya. Tak lupa melewati peron dengan membayar Rp. 500,-. Nampak penumpang cukup ramai juga. Terlihat sebuah bus Sumber Selamat dengan muatan yang nampak penuh. Berhubung ingin segera sampai rumah. Saya putuskan untuk naik.

Syukurlah, masih ada kursi kosong. Segera saja saya hempaskan tubuh ’subur’ ini. Sambil menyiapkan ongkos ‘langganan’. Bus pun meninggalkan Terminal Giwangan sekitar pukul 18.40 Wib. Tak lama kemudian, kondektur bus pun mendekati saya. Tanpa diperintah, saya sodorkan 2 lembar uang Rp. 20.000,- an (lagi).

Cukup Rp. 38.000,- untuk rute Jogja-Mojokerto. (Foto kolpri)

Cukup Rp. 38.000,- untuk rute Jogja-Mojokerto. (Foto kolpri)

Menyebutkan Mojokerto sebagai tujuan akhir, tarif langganan saya peroleh dengan Rp. 38.000,-. Tarif normal seharusnya adalah Rp. 48.000,-. Jadi hanya dengan total Rp. 100.000,- saya sudah dapat jalan-jalan keliling Jogja. Cukup murah bukan? Berani coba?

e4a2ed5305aae8dfc9f72cb159219240_banner-2-e1407906312777



TAGS   Mojokerto / Jogja / #Modal100K /


Author

Saya mengamati semua sahabat, dan tidak menemukan sahabat yang lebih baik daripada menjaga lidah. Saya memikirkan tentang semua pakaian, tetapi tidak menemukan pakaian yang lebih baik daripada takwa. Saya merenungkan tentang segala jenis amal baik, namun tidak mendapatkan yang lebih baik daripada memberi nasihat baik. Saya mencari segala bentuk rezeki, tapi tidak menemukan rezeki yang lebih baik daripada sabar. —Umar bin Khattab—

Recent Post

Komentar Terbaru

Arsip Tulisan