matahati katahati

Negeri Para Jomblo

18 Aug 2014 - 22:29 WIB

Tak mau istikomah di dalam, lebih suka menunggu di luar dlm kegelapan. (Foto kolpri)

Tak mau istikomah di dalam, lebih suka menunggu di luar dlm kegelapan. (Foto kolpri)

Sebuah kisah di negeri para jomblo. Para pemuda dan pemudinya serba galau. Tiap hari nulis status di media sosial. Bisa 10 kali bahkan 100 kali status. Seolah dunia sudah tak peduli lagi padanya. Sehingga banyak buat status, seolah-olah dirinya selalu eksis.

Negeri para jomblo, langitnya dipenuhi milyaran angan dan mimpi-mimpi. Tak ada lagi sudut kosong untuk menyembunyikan keresahan hatinya. Meski negerinya sudah merdeka, namun tidak dengan hati mereka. Dirinya seolah masih dibelenggu dengan ketakberdayaan. Langkahnya pun seolah melayang, sering tanpa arah.

Negeri para jomblo, banyak tempat ibadah yang berdiri. Namun tak lebih sebaris tempat yang dipenuhi saat peribadatan dimulai. Mereka lebih asyik dengan bermain dengan kata-kata. Peribadatan mereka adalah menciptakan ilusi yang sebaik mungkin. Untuk dihadiahkan kepada perempuan atau lelaki yang didambakannya.

Negeri para jomblo, adalah tempat ideal untuk melarikan diri dari kenyataan. Bahwa hidup memang harus berhenti untuk sesaat pada beberapa pelabuhan. Meski kadang pemberhentian itu terlihat sangat menakutkan. Sebab dia sama sekali belum pernah menjamahnya.

Negeri para jomblo, dipenuhi tempat hiburan atau cafe-cafe. Tempat ideal untuk saling berunding dengan penduduk jomblo lainnya. Membuat rencana-rencana yang tak begitu jelas untuk masa depannya. Meski sebenarnya masa depan itu sendiri sebenarnya amat dekat di pelupuk matanya.

Negeri para jomblo, sebuah wadah besar yang menampung berlaksa keresahan dan keluh kesah.

[Terinspirasi oleh sebuah status FB seorang sahabat. Semoga kamu lekas temaukan jodohmu, yang sebenarnya menunggu sejak lama di belakangmu.]


TAGS   jomblo /


Author

Saya mengamati semua sahabat, dan tidak menemukan sahabat yang lebih baik daripada menjaga lidah. Saya memikirkan tentang semua pakaian, tetapi tidak menemukan pakaian yang lebih baik daripada takwa. Saya merenungkan tentang segala jenis amal baik, namun tidak mendapatkan yang lebih baik daripada memberi nasihat baik. Saya mencari segala bentuk rezeki, tapi tidak menemukan rezeki yang lebih baik daripada sabar. —Umar bin Khattab—

Recent Post

Komentar Terbaru

Archive