matahati katahati

My First Journey: Minggat

4 May 2014 - 23:47 WIB

Sebagai ungkapan rasa persahabatan saya kepada Mas Firdaus (Eruvierda), perkenankan saya menuliskan sebuah pengalaman perjalanan pertama yang tak terlupakan. Bukan sebuah cerita yang menarik mungkin. Tapi kesan perjalanan itu begitu membekas bagi saya. Kisah perjalanan seorang anak 6 tahun yang belum begitu banyak tahu dunia luar.

Ini adalah sepenggal kisah masa silam. Malu juga sebenarnya saat akan menceritakan. But, life must go on. Anak-anak saya pun mungkin harus tahu kisah masa kecil saya. Pendidikan karakter yang penuh disiplin dari kakek mereka, abah saya. Menempa kami menjadi 5 orang anak yang tangguh, mandiri dan selalu berpegang teguh pada tali agama.

Sebagaimana layaknya anak kecil, bermain adalah dunianya. Demikian juga dengan saya. Tapi mungkin ada yang membedakan dengan teman-teman seusia saya saat itu. Tepatnya sekitar tahun 1977. Usia saya belum genap 6 tahun. Namun sejak bangun pagi, harus berjibaku dengan jadual yang begitu padat.

Sejak bangun pukul 3 pagi, biasanya kami buka dengan sholat tahajut berjamaah. Lalu menjelang Shubuh kami, saya, kakak lelaki saya dan abah segera menuju mushola. Menyapu lantai, menyiapkan tikar dan menimba jika kolam air wudlu tidak penuh. Oh ya, tahun itu belum ada pompa air listrik lho. Adanya pompa manual, itupun seringkali putus tuasnya. Sehingga menimba menggunakan timba dari ban luar mobil sudah menjadi kebiasaan kami.

Nah, singkat cerita, pada suatu pagi saat bapak sedang bepergian ke luar kota, saya mangkir sholat jamaah Shubuh di mushola. Saya pikir, bapak tidak akan tahu, sebab beliau pergi sepanjang 3 hari. Itu saya lakukan hanya satu kali Shubuh saja. Sayang, perkiraan saya meleset. Ternyata sebelum pergi bapak sudah berpesan kepada Pak Syafei untuk melaporkan aktivitas saya di mushola.

Benar saja, tepat hari ke-empat bapak pulang, beliau marah besar. Bagi beliau ada 3 hal penyebab beliau marah. Pertama, saat anaknya berbuat tidak jujur. Ke-dua, meninggalkan sholat wajib berjamaah. Ke-tiga, saat anaknya mencuri, baik disengaja atau tidak disengaja.

Nah, rupanya 2 kesalahan yang aku buat sampai juga ke telinga beliau. Pertama, jelas saya tak ikut sholat jamaah Shubuh di mushola. Ke-dua, saat saya mencuri tebu di lahan milik pabrik gula. Kebetulan penjaga atau mandornya adalah mantan anak buah bapak di kesatuan AD. Aduh, lengkap sudah, demikian pikirku.

Seperti biasanya kalau saya mencuri tebu, maka tebu itu akan dipukulkan ke tubuh saya hingga tinggal ampasnya saja. Sahabat jangan bayangkan ngerinya, sebab ‘adegan’ itu sudah biasa bagi saya dan kakak lelaki saya. Uji kanoragan, begitu paman kami biasa menyebut. Selain untuk menghukum fisik, ternyata hal itu sekaligus untuk melatih tenaga dalam kami. Meski saat itu saya tak pernah menyadarinya.

M i n g g a t

Maka tanpa berpikir panjang karena membayangkan hukum ‘cambuk’ yang akan saya terima, saya putuskan untuk minggat. Tentu bukan minggat untuk jarak yang pendek tentunya. Minggat jarak pendek sudah beberapa kali saya lakukan, saat saya diskors bapak untuk tidak boleh tidur di dalam rumah. Biasanya hukuman berlaku sejak lepas sholat Isya’ hingga menjelang sholat Shubuh. Saat kami akan berangkat sholat Shubuh berjamaah ke mushola.

Kali ini tujuan minggat saya adalah rumah bapak di Surabaya. Lumayan jauh kalau diukur dari rumah Mojokerto. Kurang lebih 54 kilo meter. Alternatif angkutan umum ada 2, kareta api diesel (KRD) atau oplet/bus. Kalau naik KRD harus ke stasiun Mojokerto dulu. Sedangkan oplet tinggal naik dari depan pasar, dekat rumahku.

Maka alternatif ke pertama aku pilih. Naik KRD dari stasiun Mojokerto. Dari rumah harus naik colt dulu dengan tarif Rp. 15,-. Maka sekitar pukul 03.00, sampailah aku di stasiun. Tanpa pikir panjang, langsung aku masuk stasiun menunggu KRD dari arah Jombang. Tak berapa lama kemudian, sampailah kereta itu. Meski tanpa karcis, saya beranikan diri untuk naik. Itu menjadi pengalaman pertama saya naik kereta api.

Sesampai di Stasiun Wonokromo langsung saya turun. Alhamdulillah, selama di kereta, saya lolos dari ‘catutan’ karcis alias pemeriksaan karcis. Mungkin mereka pikir, saya adalah anak penumpang sebelah saya. Maklumlah, saat itu setiap gerbong KRD, pasti dipenuhi oleh penumpang plus barang bawaan yang berjibun.

Setelah turun, tentu saja saya menjadi bingung. Sebab antara lupa dan ingat, jalan menuju rumah di Wonokromo. Maklumlah biasanya kemana-mana dengan bapak atau ibu. Baru sekali ini saya bepergian nekat sendirian. Maklumlah, namanya juga minggat. Setelah tanya sana dan sini, beruntung saya bertemu tukang becak tetangga saya. Lalu saya malah diantar ke Wonokromo. Kebetulan rumah bapak saat itu ditempati oleh beberapa tentara yang kos.

Kaget, begitu reaksi para penghuni kos saat tahu saya ke Surabaya sendirian. Dengan polosnya saya bercerita, mengapa saya sampai lari dari rumah. Akhirnya, saya pun diminta untuk mandi dulu sebelum Sholat Maghrib. Makan malam pun saya diajak oleh paman-paman penghuni kos di Pasar Wonokromo.

Nah, mau tahu akhir ceritanya kan?

Dengan perasaan tidak karuan tentunya, besok siangnya, ibu dan bapak menjemput saya di Surabaya. Ibu sampai menangis saat bertemu saya. Sementara bapak hanya terdiam, dengan ekspresi wajah yang kaku. Saya yakin beliau marah. Tapi luruh juga saat melihat ibu menangis sambil memeluk erat saya.

Saya maklum, pasti para paman lah yang menelepon kantor kotamadia, tempat bapak membina para pegawai sandi. Mengabarkan bahwa saya lari ke Surabaya. Tempat yang memang sudah akrab dengan saya.

Satu hal mungkin yang tak diduga bapak dan ibu. Saya berani melakukan ‘aksi gila’ di usia saya yang masih belum genap 6 tahun. Walau kadang mereka lupa, bahwa saya sudah diajarkan berani sejak kecil. Sudah diajarkan mandiri meski tak harus ditunjukkan dengan kata-kata. Kerasnya disiplin yang bapak terapkan, membuat saya berani untuk melakuka hal yang ‘berani’ juga.

Duh, kenangan ini yang kadang saya ceritakan pada anak-anak. Sehingga mereka pun berani. Mereka termotivasi untuk berpisah dengan kami, abi dan umminya di usia yang amat belia. Ya, mereka bertiga sejak usia 6 tahun telah belajar ilmu agama di pondok pesantren yang jaraknya sekitar 100-an kilometer dari rumah. Dimana hanya sekali sebulan saja kami boleh berkunjung.

Kadang tak sadar, air mata saya meleleh saat mengenang perjalanan nekat pertama saya itu. Tanpa sadar, ternyata akan lebih banyak lagi perjalanan luar biasa yang sebelumnya tak pernah saya bayangkan. Oh bapak dan ibu, kalian adalah orang tua yang luar biasa bagi kami. Terima kasih saya pun tak akan cukup membalas budi kalian. Semoga Alloh Ta’ala berikan jannahNya untukmu.

my first journey

Tulisan ini disertakan dalam GA My First Journey Wanderer Silles


TAGS   my first journey /


Author

Saya mengamati semua sahabat, dan tidak menemukan sahabat yang lebih baik daripada menjaga lidah. Saya memikirkan tentang semua pakaian, tetapi tidak menemukan pakaian yang lebih baik daripada takwa. Saya merenungkan tentang segala jenis amal baik, namun tidak mendapatkan yang lebih baik daripada memberi nasihat baik. Saya mencari segala bentuk rezeki, tapi tidak menemukan rezeki yang lebih baik daripada sabar. —Umar bin Khattab—

Recent Post

Komentar Terbaru

Arsip Tulisan