matahati katahati

Jadi Profesor, Siapa Takut?

1 Mar 2014 - 20:01 WIB

Baliho seorang profesor. (Courtesy of Goriau dot com)
Baliho seorang profesor. (Courtesy of Goriau dot com)

Pemilu tinggal beberapa minggu. Kata istilahnya sih ‘pesta demokrasi’. Tapi sampai saat ini, saya belum bisa begitu mencernanya. Makna pesta yang sebenarnya itu dimana. Semoga sahabat pembaca lain dapat mencerna dengan lebih baik.

Rangkaian pesta belum mulai. Tapi sampah visual sudah bertaburan dimana-mana. Mengotori apa saja yang bisa dikotori. Memperburuk pemandangan yang indah di sepanjang jalan. Pohon dipaku. Gambar besar-besar orang ‘antah berantah’ menutup traffic light. Tiang telepon, tiang listrik atau tiang lainnya tak bisa lulus dari bentangan spanduk.

Inilah negeriku. Negerik elok dengan para calon wakil rakyat yang wow. Cukup pasang gambar untuk dapat dipilih. Meski jadi RT atau RW saja mereka belum pernah. Dengan yakin dan melambungkan janji sebagai penyambung lidah rakyat. Janji yang begitu mudah dilupakan saat mereka sudah duduk di singgasananya.

Untuk mengenalkan keunggulan mereka, tak sungka menyebutkan gelar apa saja. Agar rakyat percaya, bahwa mereka dapat dipercaya. Meski gelar yang dipampang didapatkan dari negeri dongeng. Yang belum haji, tak sungkan untuk menambahkan huruf ‘H’ di depan namanya. Drs., Ir., Dr., MM., MSi., SH., MH., SE., SPd., laku bak kacang goreng. Meski entah mereka pernah bersekolah atau tidak untuk mendapatkan gelar itu.

Sebab di zaman ini, cukup merogoh kocek 12 juta gelar sarjana sudah diperoleh. 15-25 juta, gelar magister pun bisa disematkan. Untuk doktor malah lebih murah. Cukup 10-20 saja, paket hemat wisuda di hotel mewah, ijazah dan foto bersama para dosen dan rektor bulenya. Yang penting asyik dan bisa ikutan joget di pesta itu tentunya.

Konyolnya lagi, malah ada yang menenteng gelar profesor. Menuliskan besar-besar di baliho, agar semua orang tahu. Meski sebagian besar rakyat mencibir: profesor dari Hongkong apa. ‘Anjing menggonggong, kafilah tetap berlalu’. Inilah kemerdekaan mengemukakan pendapat yang semerdeka-merdekanya.

Lalu yang menjadi pertanyaan rakyat. Profesor dari mana bung? He…he…he…santai dulu mas bro dan mbak sista. Sedikit cerita saya di bawah ini semoga bisa jadi referensi.

Secara kelaziman, memang tak seharusnya beliau memasang gelar itu. Tapi secara ketaklaziman boleh kok. Lha, memang bisa bagaimana? Begini ceritanya ya. Di Perancis atau penduduk yang negaranya berbahasa Perancis, seorang guru itu dipanggil dengan sebutan ‘professeur’. Bagi lidah Indonesia dibaca ‘profesor’.

Nah, beliau itu kan pernah jadi dosen atau guru kehormatan di suatu kampus. Tentu saja di kampus itu beliau dipanggil ‘prof’. Kependekan dari panggilan ‘professeur’ yang artinya guru atau dosen. Jadi mengingat beliau ini sampai sekarang masih menjadi rujukan para mahasiswa, sah saja kan kalau menganggap dirinya ‘profesor’.

Sudah terjawab bukan pertanyaan mengapa beliau disebut profesor. Toh itu tongkrongan untuk pesta saja. Bukan untuk seminar, workshop apalagi konferensi atau pertemuan ilmiah. Namanya pesta, kan banyak hiasan dan tempelan warna-warni. Tentu saja agar pesta terlihat ramai dan berwarna.

Jadi profesor, siapa takut?


TAGS   baliho kampanye /


Author

Saya mengamati semua sahabat, dan tidak menemukan sahabat yang lebih baik daripada menjaga lidah. Saya memikirkan tentang semua pakaian, tetapi tidak menemukan pakaian yang lebih baik daripada takwa. Saya merenungkan tentang segala jenis amal baik, namun tidak mendapatkan yang lebih baik daripada memberi nasihat baik. Saya mencari segala bentuk rezeki, tapi tidak menemukan rezeki yang lebih baik daripada sabar. —Umar bin Khattab—

Recent Post

Komentar Terbaru

Arsip Tulisan