matahati katahati

Di Siang yang Terik

26 Feb 2014 - 13:50 WIB

Courtesy of Kaskus dot co dot id.

Courtesy of Kaskus dot co dot id.

Alkisah di satu siang yang terik. Si Zoe yang lagi galau datang ke sebuah gerai. Keringat deras mengalir deras membasahi wajahnya. Sehingga perlu usapan kaneb* untuk membersihkannya. Uiiihh…lega rasanya. Freshh…

Maka dengan perasaan yang gegap gempita, bersegera memarkir motor pinjamannya.

“Mas…mas…tolong jangan kunci stang ya,” tiba-tiba seseorang menepuk bahunya.

“Siap boss. Lagian siapa yang mau ngembat motor butut gini,” serunya agak terkejut. Maklum, biasanya sih tinggal parkir, beres. Tumben kali ini ada yang markirin.

Bergegas masuk ke gerai sebuah operator telepon. Itu tuh yang punya semboyan ‘Anti Ngepet’. Hwaduh… tengok kiri, tengok kanan, jebule sudah puluhan orang yang berjejal. Tanggung ah.

“Selamat siang mas. Ada yang bisa dibantu?” senyum manis menyapa di tengah kegalauan.

“Itu mbak…,” sambil menunjuk ke mesin antrian.

“Customer service?” Tanya si mbak meyakinkan. Zoe pun mengangguk.

“Maaf, antriannya masih 10 orang ya mas?” Sambil menyerahkan lembar antrian kepada Zoe.

“OK dah mbak. Tanggung.”

Singkat cerita, sampailah Zoe dipanggil menuju meja customer servive (CS) nomor 3.

“Selamat siang bapak. Ada yang bisa saya bantu?”

“Selamat siang mbak,” jawab Zoe lembut. Galau hatinya sempat meleleh melihat senyuman sang CS.

“Ini, anu mbak…”

“Iya bapak?” Uhg, bola mata sang CS yang hitam dan bulat itu…

“Anu mbak. Ehmm, begini maksud saya. Sejak Gunung Kelud meletus kemarin, koneksi internet saya sering masalah mbak.”

“Kenapa Gunung Keludnya Pak?” Setengah senyum terperangah dia padangi wajah Zoe.

“Ya mblodos mbak. Meletus itu kan mbledos mbak. Mbledug…,” balas Zoe sembari menatap balik.

“Serius aku iki mbak?”

“Ya pak, maaf. Terus masalahnya apa pak?”

Duh… lagi-lagi senyumnya itu. Ha….7x.

“Mbak baru ya di sini,” tanya Zoe meyakinkan.

“Betul pak. Baru tiga hari.” Jawabnya meyakinkan.

“Weeh… pantas. Saya kok belum pernah lihat. Kalau sama Mas Very tuh, saya dah hapal,” sambil mengarahkan pandangan ke si mas yang duduk di CS 1.

“Maaf, bisa saya cek dulu modem atau gadgetnya?”

Segera Zoe sorongkan modem tipisnya. Dengan cekatan si mbak CS itu menerima. Lalu kletak-kletik beberapa saat.

Zoe menunggu sambil melirik ke arah tag name di baju si CS. Andien, oh namanya Andien. Mirip nama si penyanyi itu. Tapi yang ini malah mirip Maia Estiyanti. Wajahnya, tentu saja.

“Normal pak.”

“Apanya mbak?”

“Modemnya bapak. Setelah saya cek tidak ada masalah.”

“Ya mesti saja mbak. Kalau di sini pasti nggak ada masalah. Tadi juga sudah saya cek di laptop juga nggak ada masalah.”

“Begitu bapak?” Tersirat ada rasa penasaran di kerutan dahinya.

“Masalahnya, tempat saya di atas kebun Wonosalam. Biasanya normal dan lancar. Meskipun kuotanya dah habis,” Zoe mencoba menjelaskan.

“Apa karena efek Genung Kelud kemarin mbak?”

“Coba saya cek lagi ya pak?” Mencoba menghibur nih kayaknya.

“Betul bapak. Peta jaringan di tempat bapak masih normal kok. Tidak ada gangguan. Atau mungkin karena komputernya bapak?”

Setengah senewen aku balik tanya,”Apa komputer bisa jadi masalah? Lha wong saya ganti laptop di tempat yang sama, jaringanya putus nyambung juga tuh mbak.”

“Begitu ya bapak? Coba saya tanyakan sebentar ke rekan saya ya?” Kemudian si Andien itu pun beranjak menuju ruangan di sebelahnya.

Sekitar 5 menitan, balik juga akhirnya.

“Maaf menunggu bapak. Menurut supervisor kami, jika berkenan, bapak bisa ganti pilihan paket internetnya.” Senyum hangat itu kembali menghias.

Tambah hangat juga nih kepala Zoe rasanya.

“Maksudnya ganti paket itu berarti beli paket lagi?”

“Betul bapak?”

“Haduh, piye to mbak? Lha itu namanya kan mengatasi masalah dengan masalah. Ini waktu pakai saya kan sampai tengah bulan depan. Lha masak baru 10 hari sudah suruh beli paketan lagi,” asli kali ini Zoe sewot beneran.

“Ya bapak. Mulai bulan kemarin, memang untuk pilhan paket bapak, kuotanya berkurang menjadi separohnya saja.”

“Lha kok, kemarin pas saya beli paket internet tidak diberitahu sih mbak?”

“Maaf bapak. Di situ sudah tertulis, untuk paket layanan data, syarat dan ketentuan berlaku.”

“Iya sih mbak. Tapi caranya kan nggak begini.” Sambil garuk-garuk kepalanya yang tidak gatal Zoe menggerutu sendiri.

“Ya wis mbak. Tahu jawabannya begini, nggak perlu saya ke sini mbake…mbake….”

Hihh…gemes sekali rasanya. Coba tak melihat wajah si Andien yang mirip Maia, pasti diomeli juga dah. Biar impas dengan jarak yang ditempuh untuk turun gunung sampai kota.

Dengan tubuh lemas, diakhiri saja pertemuan siang itu. Hi….7x.

“Ada yang bisa dibantu lagi bapak?” Masih dengan senyum yang uhuy itu si Andien bertanya.

“Sudah mbak. Lha wong nggak bisa bantu apa-apa gitu,” sergah Zoe sambil berdiri dari kursinya.

“Maaf ya bapak. Semoga lain kali dapat melayani lagi dengan lebih baik.”

“Standar ah…,” gumam Zoe sambil berlalu.

Ternyata, siang terik itu masih tak menjanjikan apa-apa buat Zoe. Hanya bertambah sewot saja sebab tak sesuai dengan harapan yang didamba.

Tapi hari tetap harus berjalan. Sesulit apapun jalanan yang terbentang di depan. Zoe masih saja #rapopo.

Ha….7x.


TAGS   #akurapopo /


Author

Saya mengamati semua sahabat, dan tidak menemukan sahabat yang lebih baik daripada menjaga lidah. Saya memikirkan tentang semua pakaian, tetapi tidak menemukan pakaian yang lebih baik daripada takwa. Saya merenungkan tentang segala jenis amal baik, namun tidak mendapatkan yang lebih baik daripada memberi nasihat baik. Saya mencari segala bentuk rezeki, tapi tidak menemukan rezeki yang lebih baik daripada sabar. —Umar bin Khattab—

Recent Post

Komentar Terbaru

Archive