matahati katahati

Idul Fitri yang Memenjarakan

8 Aug 2013 - 13:50 WIB

Mohon maaf lahir dan batin,” demikian tagline yang tertulis pada Hari Raya Idul Fitri. Sebuah kalimat sederhana yang penuh makna. Atau tanpa makna sama sekali. Menjadi sebuah makna jika kita memaafkan orang lain bukan berarti mereka patut mendapatkan pemaafan, tetapi memang selayaknya kita untuk memperoleh dan memberi kedamaian hati. Demikian ungkapan seorang sahabat lama penulis. Permaafan bagi diri kita yang memang penuh dengan kesalahan dan dosa masa lalu. Kemudian berkomitmen untuk membuat perbaikan diri di hari-hari yang akan datang.

Sedangkan bisa tanpa makna sama sekali, jika kita membuat permaafan itu hanyalah retorika sesaat. Mengucap dengan senyum berseri-seri. Sementara hati kita masih menebarkan keburukan. Menyusun siasat serta rencana buruk untuk menyelematkan muka dan diri dari jeratan hukum yang seharusnya juga membuat kita mengaku salah di depannya. Kita membayangkan para koruptor yang mengucapkan itu. Mohon maaf lahir, artinya tolong jangan penjarakan diriku. Ampunkan segala tindakan kejiku. Mohon maaf batin, artinya ampunkan tindakanku. Ikhlaskan saja dengan semua yang telag aku garong. Ampunkan saja aku jika hari-hari ke depan aku rampok harta ibu pertiwi dengan jumlah lebih besar lagi.

Masyaa Alloh, betapa indahnya jika kita melihat keindahan Idul Fitri dari rasa kejujuran kita. Meski pengakuan itu bisa saja menjadi menyakitkan. Sebab kita memang dituntut untuk menjadi ‘fitri’, menjadi suci. Tentu saja penebusan atas pemaafan itu bukan hanya retorika. Kita bayangkan, para penghutang akan segera melunasi segala hutang-hutang mereka. Atau para pemberi hutang melunaskan segala hutang para penghutang itu.

Para terdakwa koruptor beramai-ramai untuk menyatakan kebenaran apa yang dilakukannya. Lalu bersegera menyerahkan harta rampokannya itu pada negara. Para preman tak lagi memaksakan upeti untuk kepentingan pribadinya. Para pembunuhpun bersegera diri untuk bertobat dan meminta ampun kepada keluarga korban. Lalu para keluarga korbanpun memaafkan agar sang pembunuh lolos dari qisash. Para pejabat yang masih rakus atas kekuasaan jabatannya segera bertobat. Lalu berbenah diri untuk menjadi pelayan bagi kepentingan masyarakat. Bukan malah mereka yang harus dilayani masyarakat.

Aduhai… Idul Fitri yang indah. Bunga-bunga kejujuran merekah di mana-mana. Buah-buah pemaafan menjadi hidangan lezat yang menyucikan hati hati yang penuh muslihat dan dengki. Daun daun kesadaran menjadi tumbuh yang tebarkan semerbak harum di saentero bumi pertiwi.

Wahai Idul Fitri yang fitrah. Mampu memenjarakan semua nafsu dan keinginan serakah kita. Serta memenjarakan diri atas segala buah kerakusan dan keserakahan yang menyengsarakan saudara kita.

Wahai Idul Fitri, dimanakah sekarang engkau sebenarnya berada?


TAGS   Idul Fitri / nafsu / serakah /


Author

Saya mengamati semua sahabat, dan tidak menemukan sahabat yang lebih baik daripada menjaga lidah. Saya memikirkan tentang semua pakaian, tetapi tidak menemukan pakaian yang lebih baik daripada takwa. Saya merenungkan tentang segala jenis amal baik, namun tidak mendapatkan yang lebih baik daripada memberi nasihat baik. Saya mencari segala bentuk rezeki, tapi tidak menemukan rezeki yang lebih baik daripada sabar. —Umar bin Khattab—

Recent Post

Komentar Terbaru

Archive