matahati katahati

Idul Fitri yang Sendiri

7 Aug 2013 - 20:48 WIB

Saudaraku, ini Idul Fitri pertamaku tanpa ibu. Tapi entah sudah ke berapa puluh kali tanpa kalian. Aku paham jika kalian tinggal di benua lain. Atau di negara lain. Dimana tiket untuk mengunjungi ibu memanglah mahal. Tapi… kalian tinggal hanya beberapa puluh kilometer dari rumah ibu.

Saat semua orang bingung dengan agenda mudik. Demikian juga aku yang repot mengatur jadual mudik ke mertuaku, aku tidak tahu, apa yang ada di benak kalian dengan istilah mudik itu. Sudahlah, itu masa lalu. Itu karena aku iri mungkin. Melihat kawan-kawanku yang begitu antusias saat menyebut kata ‘mudik’. Bersemangat menuju haribaan bunda atau bapaknya yang masih ada. Atau menengok rumah masa kecilnya.

Ah… sekarang ibu sudah tiada. Membawa mimpi-mimpi dan keinginan agar paling tidak setahun anaknya kumpul bersama. Mimpi-mimpi dan keinginan yang tak pernah terwujud. Ibu yang begitu lembut, sehingga tak kuasa untuk memerintahkan anaknya pulang. Ibu yang masih saja tersenyum saat anak-anaknya mengirimkan janji untuk pulang. Meski tak tahu entah kapan.

Terkadang akupun terbawa mimpi. Andai kita seperti masa kecil kita. Berkumpul bersama meski Idul Fitri tanpa apa-apa. Tanpa baju mewah. Tanpa rumah yang dicat lagi agar terlihat indah. Tanpa membunyikan petasan seperti tetangga kita. Tapi masih bisa bercengkerama bersama ditemani suguhan sederhana buatan ibu kita sendiri.

Akupun sekarang masih punya keinginan, andai kita berkumpul di rumah masa kecil kita. Bersama anak-anak dan cucu kita, sambil bercerita bahwa disinilah harapan itu ditorehkan. Cita-cita itu ditanamkan. Meski dengan keadaan yang serba pas-pasan. Sebab bapak kita hanyalah seorang pensiunan tentara yang terlalu jujur. Uang pensiunpun kadang masih terbagi untuk kebersihan masjid. Tapi itulah yang luarbiasa dari orangtua kita. Dalam kekurangan, masih saja dapat berbagi. Tidakkah kita punya keinginan untuk mencontoh beliau?

Akupun masih punya harapan. Meski rumah ini tanpa ibu, tanpa bapak, tapi disini semangat beliau masih kuat tergambar di dinding, di ranjang jati tua kita. Tidakkah kalian ingin membagi semangat itu dengan anak dan cucu kalian? Meski tidak ada yang patut disuguhkan.

Semoga kalian tahu, bahwa ibu pun masih merindukan kalian beberapa jam sebelum meninggalkan senyum terakhirnya kepadaku. Kerinduan seorang ibu yang ingin dicium dan dipeluk anak-anak yang dulu pernah dibesarkannya.

Semoga kalian tahu, bahwa tanpa ibu pun. Rumah ibu ini masih menunggu kepulanganmu. Di hari yang fitri ini, hanya maafku lah yang dapat ku kirimkan kepada kalian. Serta pintaku agar kalian tetap mendoakan orangtua kita agar diberikan jannahNya.

Di hari Idul Fitri pertamaku tanpa ibu, aku masih duduk memandangi langit-langit ruang tamu yang terkoyak oleh jalangnya waktu. Mengusap dinding kusam yang catnya terkelupas oleh kesunyian.

Akhir kataku, teriring salam sejahtera untuk keluarga kalian. Semoga kalian selalu diberikan kebaikan serta keinginan hati… untuk menengok rumah ibu.

————- di gubug ibu, satu syawal 1434h ————-


TAGS   Idul Fitri / ibu / sunyi /


Author

Saya mengamati semua sahabat, dan tidak menemukan sahabat yang lebih baik daripada menjaga lidah. Saya memikirkan tentang semua pakaian, tetapi tidak menemukan pakaian yang lebih baik daripada takwa. Saya merenungkan tentang segala jenis amal baik, namun tidak mendapatkan yang lebih baik daripada memberi nasihat baik. Saya mencari segala bentuk rezeki, tapi tidak menemukan rezeki yang lebih baik daripada sabar. —Umar bin Khattab—

Recent Post

Komentar Terbaru

Arsip Tulisan