matahati katahati

Tangis Sang Khalifah

7 Aug 2013 - 12:23 WIB

Kasih Alloh tanpa batas.

Sahabat, ada satu posisi strategis yang diberikan oleh kepada setiap kita, KHALIFAH itulah jabatan yang disematkan oleh Allah SWT kepada setiap kita.
KHALIFAH adalah ORANG KEPERCAYAAN Allah SWT, orang yang dipercaya memimpin dan mengelola seluruh aset dan infrastruktur di Alam Semesta ini.

Kita bukanlah orang kepercayaan Lurah, Camat, Bupati atau Presiden yang kita pilih tapi lebih banyak mengkhianati kita, tapi sesungguhnya kita adalah ORANG HEBAT yang dipercaya oleh ALLAH SWT YANG MAHA SEGALANYA.

Jadi pantaskah kita seorang yang dipercaya Allah SWT melakukan maksiat sekecil apapun, pantaskah kita seorang yang dipercaya memimpin ummat dan rakyat oleh Allah SWT berkhianat atas nama kepemimpinannya.

Pantaskah kita seorang KHALIFAH, bersantai ria, lari dari tanggungjawab,
tidak memiliki kepedulian terhadap sesama dan lingkungannya, berbuat aniaya menzalimi diri, keluarga dan orang lain.

Pantaskah kita sebagai KHALIFAH ALLAH SWT, menggunakan SISTEM HIDUP yang bukan PRODUK DARI ALLAH SWT ? tidak mampu membaca dan memahami AYAT-AYAT ALLAH YANG TERHAMPAR DI ALAM SEMESTA DAN TERTULIS DALAM KITAB AL-QURAN.

Siapapun kita saat ini adalah KHALIFAH, maka janganlah menghabiskan waktu berpolemik dan menunggu-nunggu datangnya KHALIFAH dalam arti PEMIMPIN DUNIA, karena sesungguhnya KHALIFAH itu hanya akan Allah datangkan jika sebagian besar kita dan ummat kita telah memksimalkan peran kekhalifahannya.

———–
Umar ibn Abdul Aziz menangis. Apa yang membuatmu menangis, Amirul Mukminin? tanya istrinya. Umar ibn Abdul Aziz menjawab, Aku telah diberi amanat mengurus umat. Ini membuatku selalu memikirkan banyak hal: orang-orang miskin yang tak tercukupi kebutuhan sandang dan pangan mereka, orang-orang sakit yang tidak punya biaya berobat … Aku tahu, kelak aku akan ditanya oleh Tuhanku tentang mereka. Aku takut jika aku tidak bisa mempertanggungjawabkan nasib mereka.

Seperti itulah kegelisahan hati seorang pemimpin yang bertanggung jawab. Ia menyadari, bagi seorang pemimpin, rakyat adalah amanat. Rasulullah pernah mengatakan, Barang siapa yang dijadikan Allah sebagai penguasa, tetapi dia meninggal dunia dalam keadaan mengkhianati rakyatnya, Allah akan mengharamkan surga baginya, (HR al-Thabrani dan Abu Nuaim). Sabda itulah yang membuat Umar menangis. Ia khawatir dirinya termasuk pemimpin yang dimaksudkan dalam sabda itu.

Selama menjadi pemimpin, Umar ibn Abdul Aziz menetapkan kebijakan ekonomi yang benar-benar memihak kepada rakyat. Ia membangun pemerintahan yang menghindari perputaran harta umat terjadi hanya pada lingkaran pejabat dan konglom erat, seperti yang terjadi pada pemerintahan sebelumnya. Sebelum menjadi khalifah, ia pernah berkat dengan lugas kepada khalifah waktu itu, Sulaiman ibn Abdul Malik, Pemerintahanmu hanya membuat orang kaya semakin kaya dan orang miskin semakin miskin.

Begitu Umar naik menjadi khalifah, prioritas utama yang ia lakukan adalah membangun sistem perekonomian yang bernilai keadilan dan kesejahteraan bagi rakyat. Ia melarang para pejabat menguasai aset umat. Aset-aset umat yang pada masa kekhalifahan Sulaiman banyak dipegang oleh pejabat, Umar kembalikan kepada yang berhak. Jika aset itu tidak ketahui siapa pemilik sebenarnya maka aset itu akan dikelola oleh negara.

Umar memberi perhatian besar kepada kaum miskin. Ia mendata orang-orang yang terjerat utang. Jika mereka benar-benar orang yang tidak mampu membayar utangnya maka utang tersebut akan dibayar oleh negara.

Begitulah seharusnya peran kita sebagai khalifah terhadap semua orang yang ada dibawah kepemimpinan kita.


—— gubug permai, 30 romadhon 1434h ——–


TAGS   Alloh / khalifah / Umar /


Author

Saya mengamati semua sahabat, dan tidak menemukan sahabat yang lebih baik daripada menjaga lidah. Saya memikirkan tentang semua pakaian, tetapi tidak menemukan pakaian yang lebih baik daripada takwa. Saya merenungkan tentang segala jenis amal baik, namun tidak mendapatkan yang lebih baik daripada memberi nasihat baik. Saya mencari segala bentuk rezeki, tapi tidak menemukan rezeki yang lebih baik daripada sabar. —Umar bin Khattab—

Recent Post

Komentar Terbaru

Archive